Selasa 24 Oktober 2017
  • :
  • :

Sektor Migas Indonesia Masih Jadi Incaran Investor Asing

Sektor Migas Indonesia Masih Jadi Incaran Investor Asing

Medan, SumutOnline – Indonesia masih tetap menjadi prioritas pengembangan bisnis di sektor minyak dan gas bumi. Hal ini dilihat dari keseriusan PTT Exploration and Production (PTTEP) Thailand yang digandeng oleh PT Pertamina (Persero) untuk pengembangan Blok East Natuna, bersama anggota konsorsium lainnya, yaitu Exxon Mobil.

PTTEP Thailand tetap berkomitmen melanjutkan keikutsertaan pengelolaan Blok East Natuna, kendati kondisi ekonomi dunia belum stabil dan harga minyak masih rendah. Demikian dikatakan Generals Affairs Manager PTTEP Malunda Limited and PTTEP South Mandar Limited Afiat Djajanegara, kemarin.

Adapun porsi hak kelola Blok East Natuna Pertamina memiliki hak kelola sebesar 45 persen, ExxonMobil, sebesar 45 persen dan 10 persen dimiliki PTTEP Thailand.

“Komitmen kami masih (ikut serta mengelola investasi Blok East Natuna), walaupun masih ditunda menunggu situasi membaik karena investasi sebuah negara harus memperhitungkan long term,” ujarnya.

Dijelaskannya, terkait penerapan kontrak bagi hasil di Blok East Natuna PTTEP menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Pemerintah berencana menerapkan skema kontrak untuk Blok East Natuna berbentuk gross split bukan cost recovery. Saat ini aset hulu migas PTTEP di Indonesia beroperasi di Malunda sebagai operator, Semai II dan Natuna Sea Blok A.

“Terakhir memang berdasarkan hasil evaluasi karena kontrak baru, maka menggunakan gross split. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada negara,” tuturnya.

Sementara, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja mengatakan, skema kontrak untuk Blok East Natuna berbentuk gross split, bukan cost recoveryseperti yang direncanakan sebelumnya.

Hal itu mengingat, kontrak blok tersebut merupakan kontrak baru sehingga harus mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8/2017 terkait kontrak bagi hasil gross split.

“Di situ disebutkan, pengelolaan terhadap wilayah kerja yang akan berakhir jangka waktu kontraknya dan tidak diperpanjang diberlakukan gross split,” ungkapnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Gunung Sardjono Hadi mengatakan, skema baru gross split sudah tepat dilaksanakan. Kendatipun masih ada penolakan dari sejumlah investor, lambat laun akan diterima juga. Blok East Natuna memiliki volume gas 222 triliun kaki kubik (TCF) serta cadangan terbukti 46 TCF.

Blok ini juga menyimpan cadangan migas 36 juta barel. Berdasarkan catatan Kementerian ESDM saat ini terdapat 16 wilayah kerja di Kepulauan Natuna yang terdiri atas 6 WK berproduksi, 10 WK eksplorasi di mana 3 di antaranya dalam proses terminasi karena waktu kontraknya telah habis dan belum berhasil memperoleh temuan migas. (okezone)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *