Rabu 18 Oktober 2017
  • :
  • :

Menyelam Tradisi Tabuik Yang Menghibur

Menyelam Tradisi Tabuik Yang Menghibur

Pariaman Tadanga sunyi, karena Tabuik mangkanyo ramai. Begitulah sebuah kutipan lagu dengan bahasa Minang yang saya dengar di dalam angkutan kota Padang yang menuju Kota Pariaman. Walaupun saya lahir di Kota Medan, sedikit saya mengerti bahasa Minang, maklum saja tetangga saya mayoritas bersuku Minang. Jauh hari saya mempersiapkan untuk pergi ke Pariaman guna melihat Tabuik. Tabuik merupakan tradisi unik yang berasal dari Pariaman. Tradisi ini sangat populer di kalangan masyarakat se-Sumbar maupun Nasioanal.

Menurut berbagai sumber yang saya baca, kata Tabuik berasal dari bahasa Arab yang diartikan sebagai ‘kerenda’. Akan tetapi, walaupun terdengar sedikit Horor, tradisi ini sangat bersifat menghibur, ini di perlihatkan dengan ramainya ribuan orang yang berantusias menyaksikan tradisi ini. Dari remaja hingga orang tua, dari pariaman maupun di luar kota Pariaman berduyun-duyun turun ke pantai Gandoria di Pariaman tempat berlangsungnya festival budaya ini. Saya sendiri bertanya dalam hati, kenapa ramai sekali yang datang, dan apa yang dicari oleh warga selain hiburan di sini.

Saya bertanya kepada salah seorang panita yang dilihat dari penampilan usianya sudah memasuki kepala lima. Beliau sudah sering menjadi bagian dalam acara tahunan ini, namun saya tidak sempat menanyakan namanya karena saya hanya melakukan obrolan sambil lewat kepadanya. Kepada saya ia mengatakan setelah Tabuik di lempar ke laut, warga akan berebut mengambil bagian-bagian tubuh Tabuik hingga menyisakan kerangkanya saja, begitulah sang bapak menjelaskan prosesi akhir dari festival Tabuik. Masyarakat lokal meyakini ornamen Tabuik membawa peruntungan dalam berdagang. Namun Tradisi tetaplah tradisi, dengan bijak pria paruh baya itu menjelaskan sambil menunjuk ke arah Tabuik dengan jarinya yang diselipi sebatang rokok.

Tabuik diperingati setiap tanggal 10 Muharam dalam Kalender Hijriah yang bertepatan pada tgl 25 Oktober 2016 kegiatan ini dilakukan tahun 1831. Budaya ini memperingati wafatnya cucu Nabi Muhamad SAW yaitu Imam Husain, yang wafat dibunuh oleh pasukan militan yang memusuhi Islam padawaktu itu.

Traadisi ini awalnya tersebar di semenanjung sisi pantai barat pulau Sumatera, selain Pariaman dan Bengkulu, ada juga di Kota Meulaboh, Singkil, dan Barus di Sumatera Utara, bahkan kabarnya pernah diselenggarakan di Kota Pekanbaru. Akan tetapi, di pertengahan abad 18 tradisi ini mulai hilang dan yang masih melaksankanya hanya di Pariaman dan Bengkulu. Beda tempat beda pula namanya, jika di pariaman dikenal dengan sebutan Tabuik, di Bengkulu lebih di kenal dengan sebutan Tabot.

Pembuatan Tabuik terbilang rumit, membutuhkan waktu 10 hari sebelum hari puncak dalam acara ini. Memasuki pagi sewaktu hari perhelatan, Tabuik disatukan antara potongan badan dan tugunya, serta juga pemasangan sayap dan ekor. Proses penyambungan disebut Tabuik Naik pangkat.

Tepat pada pukul 14.00 WIB, Tabuik mulai digiring sedikit demi sedikit menuju ke arah pantai. Tidak ada yang tahu secara akurat berapa berat bobot dari sebuah Tabuik. Akan tetapi dari pandangan mata saya, membutuhkan sekitar 25 pria atau dengan sebutan lokal ‘anak tabuik’ yang bahu-membahu menggiring benda ini. Selain menggiring, 25 anak tabuik juga harus menjaga keseimbangan Tabuik yang tingginya sekitar 15 meter dan terdapat bambu hingga besi sebagai penyangganya.

Ada dua buah Tabuik yang akan digirng ke pantai, satu di antaranya ialah Tabuik Pasa. Tabuik ini berdiri atas dasar sumbangsih pedagang pasar, dan yang satunya adalah Tabuik Anak Nagari, tabuik ini berdiri atas dana anggaran Pemda kota Pariaman. Ukuran kedua Tabuik ini sama, menurut info yang saya dapat dari warga, Tabuik pernah disajikan dalam enam buah. Di karenakan anggaran yang minim maka sekarang Tabuik hanya di buat dua buah saja.

Prosesi Puncak

Pantai Gandoria sudah ramai di padati ribuan manusia yang ingin melihat langsung ketika Tabuik akan dijatuhkan ke tepi pantai. Jumlah manusia yang ingin melihat sangat banyak, titik keramaian di kota Pariaman terpusat di pantai ini. Tentunya yang menjadi imbas adalah para pedagang disekitaran pantai, dagangan mereka dengan sekita laku dan meraup untung yang banyak untuk hari itu. Perputaran uang di sekitaran pantai mencapai hingga 10 Milyar menurut surat kabar yang saya baca keesokan harinya.

Hari sudah menjelang Magrib, dengan segera anak tabuik menjatuhkan tabuik ke arah pantai. Ternyata di pantai sudah puluhan orang berenang untuk menyambut. Ini terkesan membahayakan. Betapa tidak, tabuik yang terkandung besi maupun bambu mampu seketika dapat menimpa mereka. Benar saja, satu orang dilarikan ke RS karena tulang rusuknya patah yang sebelumnya diselamatkan dahulu oleh BPBD setempat. Perjuangan warga sangat menggambarkan dengan apa yang dikatakan panitia yang berusia paruh baya di atas.

Warga Kota Pariaman khususnya patut kita apresiasikan dengan antusias mereka. Mereka menjadikan tradisi budaya sebagai bentuk hiburan yang di nanti setiap tahunya. Alangkah indahnya jika setiap warga negara Indonesia mengambil andilnya untuk melestarikan atau palling tidak menghargai budaya dan tradisi Nusantara dengan tetap menghadiri dan menyaksikan. (rizkynfirman)

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *