Selasa 12 Desember 2017
  • :
  • :

Pesona Tantangan Lau Seruway

Pesona Tantangan Lau Seruway

Air beriak dengan kebiasaanya, namun belum cukup untuk mendebarkan jantung kami di awal yang menjadikan olahraga Rafting sebagai divisi ini. Apakah ini dapat mendebarkan Vio, si anak baru yang setelah mengarungi sungai mengaku pernah tenggelam dan menjadikanya phobia air deras? Entahlah, yang terpenting ia dapat menyembunyikan kepanikanya dibalik mata sipitnya.

Kami mengawali pengarungan dengan instruksi singkat tapi berstandar. Jeram sedang sudah menanti di hadapan kami. Eprius sebagai team leader menaungi empat orang pemula termasuk aku, tugasnya cukup berpengaruh, mengarahkan perahu karet agar stabil saat menghantam jeram. Dengan dayungan khusus Eprius memberikan instruksi pertamanya kepada ku saat duduk di atas perahu untuk segera menyimpan kamera, karena jeram sudah dekat. Dengan sigap aku menuruti perintahnya, dan otomatis dokumentasi saat melewati jeram terbilang nihil.

Tiga jeram di sungai Seruway sudah terlewati, perahu sangkut di antara batu besar. Eprius dengan pengalamanya turun dari perahu dan menarik perahu agar terbebas dari jeratan batu besar. Tapi naas, arus terlalu deras sehingga perahu meluncur kencang dan meninggalkan Eprius di balik tikungan tebing sungai.

Eprius terjebak diantara dua sisi tebing licin dan jeram deras dengan kondisi tertinggal perahu, kami yang di perahu juga terjebak dengan kebutaan seperti apa medan yang akan dihadapi nantinya. Sedangkan kami tidak mungkin meninggalkan Eprius yang sedang terjebak di balik tikungan sungai yang tak tampak oleh kami. Kami terjebak oleh pilihan. Menyandarkan perahu di sisi tebing, terlihatlah kami seperti anak yang terpisahkan Ayahnya saat di pasar malam.

Pukul sudah menunjukan 18.50 WIB, sudah lumayan gelap, aktivitas kelelawar dan binatang nocturno lainya sudah bermunculan. 45 menit menanti kedatangan sang ledaeryang kami harapkan berani berenang melewati jeram deras dan hanyut menuju perahu. Menjerit, memanggil Eprius dari balik tikungan sungai hanya itu yang kami bisa. Tapi nyatanya hanya ranting kecil yang hanyut menuju perahu. Umar sebagai lelaki yang paling senior di antara kami, melihat lihat ke sisi atas tebing, mungkinkah ada jalan menuju atas tebing yang kami perkirakan adalah ladang warga. Licin dan rata, membuat orientasi tebing menjadi sia-sia.

Duduk di lubang tebing sambil memgang tali perahu merupakan tugas ku. Umar masih tetap berusaha mencari akal, iya mencoba berenang melawan arus sungai yang deras, hasilnya ia seakan berenang mundur. Mendayung perahu melawan arus sungai yang lebarnya terbilang sempit dan debet air tinggi seakan mustahil.

Ada seutas jembatan kecil perlintasan untuk manusia yang jaraknya 20 meter dari atas kepala kami, lebih tepatnya di atas tebing datar dan licin. Ada warga yang melintas, jeritan kami tak dihiraukan. Saat itu kami merasa tidak dimanusiawikan. Apa mungkin karena kami terlihat terlalu kecil dari jembatan itu? Atau suara kami yang kurang melengking, atau juga gelombang air yang menghantam batu lebih bising dari jeritan kami.

Tak lama kemudian terlihat dari jembatan ada orang yang peduli dengan nasib kami yang sedang mencemaskan kawan di balik tikungan sungai. Kami mencoba berkomunikasi dengan teriakan, bertanyan nasib teman kami. Jawabanya mengecewakan, belum nampak. Kami mencoba menjelaskan warna baju yang Eprius kenakan saat itu, jawabanya sangat mengecewakan dan semakin menghawatirkan, belum nampak kata pria yang di jembatan itu.

Ternyata pria yang di jembatan itu adalah supir pic-up yang kami tumpangi, mungkin karena sudah sedikit gelap, atau mungkin jarak pandangan orang yang sedang khawatir hanya sampai 20 meter. Ia tidak sendirian, dia menyuruh dua orang awak pick-up lainya untuk memastikan keadaan Eprius. Kami yang berada di balik tikungan sungai tidak tahu betul cara mereka melihat atau mencoba membantu kawan kami. Tapi resiko tinggi yang akan dihadapi awak pick-up jika turun hingga bibir sungai untuk menolong.

Eprius mencoba memanjat tebing sungai yang licin menuju ladang warga, itulah yang kami harapkan sebagai teman yang mencoba good thinking. Bagi kami yang tersisa sebagai penumpang perahu tanpa pengemudi hanyalah melanjutkan pengarungan menuju jembatan besi seperti tempat yang dijanjikan. Perahu terkendali dengan miring kesana dan kemari seperti truck yang dikemudikan para pemabuk. Sangkut di permukaan sungai berbatu dan menabrak tebing yang menyakitkan pinggang.

Memejamkan mata di arus datar, Umar tampak cemas kembali dengan kondisi apa yang dialami teman di balik tikungan sungai yang sudah sangat jauh kami tinggalkan itu. Kerumuna warga yang beraktivitas menjadi perhentian kami. Warga menyambut dengan pertanyaan kenapa hingga gelap seperti ini masih main arung jeram. Disusul curhat umar yang menceritakan kejadian sebenarnya.

Woooi, suara bentakan yang tidak asing dari jembatan gelap. Ternyata itu si eprius. Dugaan benar, memanjat tebing dengan bantuan akar cara eprius tanpa harus renang jeram. Habislah kekahawtiran yang berujung saling memeluk. Eprius juga mengaku khawatir karena tidak mendampingi kami. Ternyata kami saling mengkhawatirkan satu sama lain.

Proses ini terbilang tanpa ada pencapaian, tapi bukan berarti antiklimaks. Semua campur tangan Tuhan. Bisa dikatakan ini adalah pengarungan religi, Doa bersama maupun Doa dalam hati yang mengiringi kami tanpa celaka. Tuhan tidak hanya bersama orang-orang pemberani, tapi juga Tuhan bersama manusia yang mengkhawatirkan kondisi temannya.(Rizky N. Firman)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *