Selasa 12 Desember 2017
  • :
  • :

Gubsu Diberi Gelar Tengku Pangeran Indra Diraja

Gubsu Diberi Gelar Tengku Pangeran Indra Diraja

Tebing Tinggi, SumutOnline – Mendapat gelar Tengku Pangeran Indra Diraja dari Kerajaan Negeri Padang Deli, Gubernur Sumatera Utara (Sumut) HT Erry Nuradi menyampaikan pesan kepada tokoh adat khususnya Melayu, untuk menjadi jarum dan benang yang berperan mengeratkan dan menyatukan masyarakat.

“Kita tentu berharap tokoh adat dan tokoh masyarakat Melayu bisa menjadi jarum dan benang yang berguna mengeratkan dan menyatukan kain yang terpisah, bukan menjadi gunting yang memisahkan atau memeca,” ujar Gubernur dalam sambutannya pada acara Halal Bi Halal Anugerah Kebangsawanan Melayu Kerajaan Negeri Padang Deli 2017 di Gor Asber Nasution, Tebing Tinggi, Senin (24/7/2017).

Hadir pada acara tersebut diantaranya Walikota Tebing Tinggi H Umar Zunaidi Hasibuan, Kapolres Tebing Tinggi AKBP Ciceu Cahyati, Pemangku Adat Kerajaan Negeri Padang Tengku Nurdinsyah Alhajj Gelar Maharaja Bongsu, Wakil Bupati Sergai Darma Wijaya para pimpinan SKPD provinsi serta perwakilan dari Kesultanan Pantai Timur Sumatera dan para tokoh penerima gelar dari Kerajaan Negeri Padang.

“Saat ini kita memang sangat merindukan suasana adat budaya yang menjunjung tinggi etika, sopan santun dan budi bahasa. Semoga pelaksanaan upacara penganugerahan ini mendapat ridho Allah dan dapat memberikan manfaat, bukan hanya bagi masyarakat Melayu, melainkan seluruhnya di Sumatera Utara,” ucapnya.

Pada acara yang diselingi pengukuhan Datuk Pemangku Kampung Kerajaan Negeri Padang dan Pengukuhan Pengurus Ikatan Sarjana Melayu Tebing Tinggi itu, Gubsu menilai upacara seperti ini adalah satu hal yang strategis jika dilihat dari persoalan yang dihadapi bangsa saat ini, yakni  gejala separatisme dan disintegrasi bangsa.

“Karenanya diharapkan upacara penganugerahan ini diharapkan mampu berperan sebagai sarana menciptakan harmonisasi di masyarakat yang menjunjung tinggi nilai budaya dan adat istiadat dalam wadah NKRI,” tuturnya.

Erry juga  menekankan, upacara tersebut bukan untuk membangkitkan feodalisme yang sudah lama ditinggalkan serta bukan untuk mengkultuskan seseorang. Melainkan dapat dijadikan sarana retrospeksi terhadap kehidupan masa lalu yang memiliki nilai tambah untuk diadopsi dalam kehidupan. Karena itu, antara ulama, umaro dan adat adalah tiga sejaringan yang penting dalam kehidupan.

“Adat istiadat menjadi penerang dan pegangan hidup bagi masyarakat Melayu, sebab adat itu jika tidur menjadi tilam, jika berjalan menjadi payung, jika di laut menjadi perahu, jika di tanah menjadi pasal (tiang), orang hidup dikandung adat, dan orang mati dikandung tanah,” pesannya dihadapan seribuan warga Tebing Tinggi yang hadir.

Penerima gelar adat termasuk dirinya, lanjut Gubernur, punya tanggungjawab moral besar. Dituntut mampu melakukan upaya pemeliharaan dan pengembangan jatidiri dan identitas ke-Melayu-an di tengah masyarakat.

Sebab orang Melayu dikenal terbuka dan berinteraksi dengan ragam budaya lain. Hidup bersama dengan kelompok suku bangsa lain dan berasimilasi.

“Semoga dengan rangkaian acara termasuk Pengukuhan Relawan Kompeten ini, akan memberi kontribusi yang luas dan nyata bagi terciptanya kerukunan masyarakat, terpeliharanya persatuan, lestarinya adat istiadat dan budaya Melayu,” tandasnya. (ss)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *