Kamis 23 November 2017
  • :
  • :

64 Hektar Lahan Terbakar Di Aceh Barat

64 Hektar Lahan Terbakar Di Aceh Barat

Medan, SumutOnline – Cuaca pasan yang melanda wilayah Aceh telah menyebabkan kebakaran hutan dan lahan seluas 64 hektar di Kabupaten Aceh Besar. Akibatnya warga mengalami gangguan kesehatan dikarenakan asap yang dimbulkan sangat tebal.

Tiga warga di Kabupaten Aceh Barat terpaksa harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh, kemarin malam karena mengalami gangguan pernafasan akibat kabut asap yang ditimbulkan dari kebakaran lahan yang tersebar di 5 kecamatan.

“Kebakaran lahan melanda lima kecamatan di Aceh Besar yaitu di Kecamatan Woyla lahan seluas sekitar 5 Ha terbakar di Desa Darul Huda dan Desa Gle Siblah, di Kecamatan Meureubo seluas sekitar 15 Ha di Desa  Peunanga Cut Ujong, Kecamatan Sama Tiga seluas 10 hektar di Desa Cot Simeureng dan Desa Suak Pante Breh, Kecamatan Johan Pahlawan seluas sekitar 19 Ha di Desa Suak Raya, Desa Suak Nie, Desa Leuhan dan Desa Gampa,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulisnya yang diterima wartawan, Selasa (25/7/2017).

Sutopo melanjutkan, kebakaran lahan dan hutan ini juga terjadi di Kecamatan Arongan Lambalek dan lahan yang terbakar seluas 15 Ha tepatrnya di Desa Seuneubok Teungoh.

“Kebakaran lahan ini disebabkan masyarakat membersihkan lahan dengan cara membakar, sehingga api menyebar ke lahan lain. Kebakaran terjadi sejak Selasa (18/7/2017) dan sampai saat ini di beberapa titik masih terbakar pada lahan gambut dan lahan mineral,” ujarnya.

Hingga saat ini, lanjut Sutopo, upaya pemadaman terus dilakukan oleh BPBD Aceh Barat, BPBA, TNI, Polri, Basarnas, RAPI, Damkar, relawan dan masyarakat. Mobil pemadam kebakaran, tangki air, mobil water canan Polres Aceh Besar, pompa air dikerahkan untuk memadamkan api. BPBD telah membagikan masker dan makanan siap saji kepada masyarakat.

“Kendala pemadaman kebakaran adalah tidak adanya akses jalan ke lokasi kebakaran, terbatasnya fasilitas mobil pemadam kebakaran dan mobil tangki air. Selain itu, terbatasnya sumber air dari lokasi kebakaran, dan terbatasnya peralatan. Penanganan dilakukan secara manual,” terangnya.

Sementara itu, pantauan satelit Aqua, Terra, dan SNNP dari LAPAN menunjukkan adanya 170 titik panas (hotpsot) untuk kategori sedang (dengan tingkat kepercayaan 30-79 persen) dan tinggi (tingkat kepercayaan lebih 80 persen) diwilayah Indonesia, Senin (24/7/2017) malam.

Terdeteksi 35 hotspot di Aceh yang tersebar di Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tengah, Aceh Jaya, Aceh Besar, dan Gayo Lues. Sebaran hotspot di daerah lain adalah Sulawesi Selatan 2 hotspot, Kalimantan Selatan 8, Nusa Tenggara Barat 8, Nusa Tenggara Timur 44, Sulawesi Tengah 5, Kalimantan Timur 6, Kalimantan Utara 1, Lampung 2, Sumatera Utara 3, Jawa Timur 9, Sulawesi Barat 1, Kalimantan Tengah 8, Kalimantan Barat 21, Bengkulu 4, Jambi 1, Sumatera Barat 3, Riau 5, dan Sumatera Selatan 1.

Ancaman kebakaran hutan dan lahan akan terus menigkat seiring dengan normalnya musim kemarau. Puncak musim kemarau diprediksikan pada Agustus dan September sehingga ancaman kebakaran hutan dan lahan, dan kekeringan akan meningkat.

Pemerintah dan pemda terus meningkatkan sosialisasi, patroli dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Pencegahan lebih efektif dibandingkan dengan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. (ss/rel)

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *