Kamis 23 November 2017
  • :
  • :

Mahasiwa di Tapteng Desak Holyland Ditutup

Mahasiwa di Tapteng Desak Holyland Ditutup

Sibolga, SumutOnline – Sejumlah elemen mahasiswa dan pemuda di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, tetap konsisten meminta lokasi hiburan Holyland yang berada di Kompleks Ruko Hocklie, Jalan Padangsidimpuan, Kelurahan Pasir Bidang, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, ditutup

“Kami tetap konsisten meminta agar lokasi hiburan itu (Holyland,red) ditutup, kemaksiatan tak boleh dibiarkan bagaimanapun alasannya,” tegas Ketua Umum PC IMM Sibolga -Tapteng, Darwinsyah Hutagalung kepada wartawan di Sibolga, Rabu (26/7/2017).

Dikatakannya, sejak mendapatkan bukti investigasi dan mengungkap ke publik secara meluas dugaan kemaksiatan di Holyland berupa video rekaman saat menyaru menjadi pelanggan beberapa waktu lalu, dirinya dan Ketua SAPMA PP Tapteng, Ridwan Siregar didampingi Ketua SAPMA AMPI Tapteng Reza Andhika Rahmad ZT terus melakukan pemantauan progres yang dilakukan pemerintah setempat.

“Kita melihat lokasi hiburan itu masih beroperasi dan belum ada tindakan tegas dari pemkab, tentu ini akan menjadi evaluasi bersama ditingkatan kami,” pungkas Darwin.

Sementara, Ketua SAPMA PP Tapteng, Ridwan Siregar menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan merencanakan sikap yang lebih tegas merespon lambannya penanganan terhadap Holyland. “Tentu harus ada sikap tegas, karena lokasi hiburan itu masih berjalan dan tak ada sanksi. Ditunggu saja,” cetusnya.

Ketua SAPMA AMPI Tapteng Reza Andhika Rahmad ZT mengungkapkan, dukungan masyarakat luas di Tapteng terus mengalir kepada pihaknya paska terbongkarnya praktik maksiat di Holyland.

“Dukungan masyarakat yang menginginkan agar Kabupaten Tapteng bersih dari praktik-praktik amoral dan kemaksiatan begitu besar datang kepada kami. Dan kami juga meyakini, pak Bupati Tapteng juga mendukung langkah dan sikap kami ini,” katanya.

Ia menambahkan, selama lokasi hiburan Holyland masih beroperasi, potensi kemaksiatan akan terus terjadi dan terpelihara dengan baik.

“Siapa yang tahu, penawaran wanita-wanita penghibur di Holyland masih berlangsung? Karena setelah kita membongkar kasus tersebut, pihak Holyland seolah-olah tidak tersentuh aturan, ini yang mau kita tegaskan. Bahwa mendapatkan PAD juga harus dengan cara-cara yang mendidik masyarakat, jangan karena alasan investasi, alasan pendapatan daerah, kemaksiatan pun dipelihara,” tegasnya.

Diketahui, elemen mahasiswa dan pemuda ini berhasil merekam sebuah video seorang pelayan Holyland mengakui bahwa di lokasi hiburan tersebut tersedia wanita penghibur. “Mau abang wanita penghibur?” ucap pelayan tersebut menawarkan.

“Itu sekedar kawan balagu (bernyanyi-red) saja, seratus ribu itu perjam itu bang. Berapa orang? takut dia nanti karena ramai, minimal dua, ala biaso baitu bang (sudah biasa begitu bang),” ucap pelayan menjawab para mahasiswa itu.

Dalam rekaman video terlihat juga karyawan Holyland tersebut juga menyebutkan tersedianya kamar khusus yang boleh disewa. Tarif sewa kamar tersebut senilai Rp100 ribu. “Ya, katanya juga ada kamar diatas untuk short time dengarlah di video itu. Kami juga terkejut mendengarnya,” cetusnya.

Terpisah pemilik usaha hiburan Holyland Family Karaoke, Henry Wennendy membantah keras tudingan yang diungkapkan kalangan mahasiswa dan pemuda tersebut. Ia menegaskan, usaha yang ia besut tersebut masih menjaga norma-norma sosial yang ada.

“Manajemen hingga saat ini tidak mempekerjakan karyawan wanita, apalagi menyediakan wanita penghibur,” kata Henry kepada wartawan belum lama ini. (ss/rel)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *