Selasa 24 Oktober 2017
  • :
  • :

Tahun 2018, Tirtanadi Akan Tambah Debit 1.380 Liter/Detik

Tahun 2018, Tirtanadi Akan Tambah Debit 1.380 Liter/Detik

Medan, SumutOnline –  Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal daerah Sumatera Utara Parlindungan Purba meminta pemerintah mensubsidi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia.

“Sebab banyak PDAM yang tidak sehat dikarenakan kekurangan modal,” tegas Parlindungan ketika berkunjung ke PDAM Tirtanadi di Jalan SM Raja nomor 1 Medan, Selasa (25/7/2017) sore.

Parlindungan yang datang sendiri diterima Direktur Air Minum PDAM Tirtanadi Delviyandri dan Kepala Sekretaris Perusahaan Jumirin. Kedatangan Parlindungan untuk meminta masukan dari PDAM Tirtanadi sebagai salah satu PDAM sehat di Indonesia.

Selama ini, Parlin panggilan akrabnya, mengaku menerima keluhan dari masyarakat tentang PDAM Tirtanadi, termasuk masalah kenaikan tarif air. Selaku Ketua Komite II yang membidangi Kementerian PU/PR, Parlin meminta masukan dari PDAM Tirtanadi apa masalah dan program ke depan.

“Memang saya tahu, dari 400 PDAM di Indonesia, hanya 10 persen yang sehat, syukur termasuk PDAM Tirtanadi,” ujarnya.

Menurut Parlin, perlunya PDAM disubsidi mengingat air yang dikelolanya merupakan hajat hidup orang banyak. Jadi pemerintah harus campur tangan. Ini amanat UUD 1945 pasal 33 (Bumi dan air dikuasai oleh negara), sehingga harus ada subsidi pemerintah. Ini supaya ada diskusi khusus, agar semua kebijakan dipahami.

“Saya tidak komentari keputusan bisnis. Tapi, saya akan meminta masukan ke Menteri PU/PR,” ungkapnya.

Selain itu, Parlin juga minta daerah harus berperan aktif, harus ada anggaran visibility studi (studi kelayakan) singkat, harus ada transparan. Juga penyediaan air baku karena PDAM bukan menghasilkan air, tapi mengolah air jadi harus ada air baku. Beda dengan PLN yang bisa menghasilkan energi dari mesin-mesinnya.

“Orang bisa hidup tanpa listrik, tapi tidak bisa hidup tanpa air. Ini menjadi hak yang serius,” tegas Parlin.

Soal kenaikan tarif air yang baru disesuaikan PDAM Tirtanadi, Parlin minta penggunaan dananya harus betul-betul untuk meningkatkan pelayanan dan pastinya harus transparan.

Sebelumnya, Direktur Air Minum Delviyandri memaparkan tentang kenaikan tarif air rata-rata 30 persen mulai Mei 2017. Tarif itu masih yang termurah di Indonesia. Di Pekan Baru saja mencapai Rp 6.000 per meter kubik karena air nya dari air payau sehingga biaya mengolahnya lebih mahal.

Delviyandri menyebut terakhir melakukan peninjauan tarif sesuai Permendagri pada tahun 2006 dalam rangka full cost recovery (FCR), peningkatan tarif harus mampu menutupi biaya-biaya yang ada. Artinya semua pendapatan harus dapat menutupi biaya operasional dan juga investasi.

“Kalau tidak melakukan penigkatan tarif maka FCR tak bisa dilakukan,” katanya.

Perjalanan itulah yang membuat kita perlu peninjauan tarif. Ini dalam rangka menjaga full cost recovery. Kalau melihat inflasi yang ada ini bergerak terus. Ini mempengaruhi harga-harga bahan kimia, karena mengikuti pasar dan dolar.

Dalam hal perawatan juga memakai pompanisasi, untuk membeli peralatan, spart part. Untuk mengolah dan menambah air perlu biaya besar. Jadi dengan naiknya tarif air ini, Tirtanadi mendapat tambahan dana untuk biaya perawatan.

Delviyandri juga mengatakan, program tahun 2017 dan rencananya terealisasi tahun 2018, direncanakan menambah produksi sekitar 1.380 liter/detik dengan dana dianggarkan mencapai Rp 320 miliar.

Penambahan debit 1.380 liter/detik itu terdiri dari tambahan (up rating) IPA Sunggal Clerator nomor 2 dan 4 sebesar 400 liter/detik, Up rating IPA Deli Tua Clerator nomor 1 sebesar 300 liter/detik, pembangunan IPA Medan Denai 240 liter/detik, pengembangan IPA Tirta Lyonis Medan (TLM) 400 liter/detik dan pembangunan IPA paket Pancurbatu 40 liter/detik.

Biaya Pembangunan itu berasal dari sisa dana penyertaan modal Pemprovsu Rp73 miliar dan sisanya dari PDAM Tirtanadi. Saat ini debit air Tirtanadi sebesar 6.600 liter/detik, termasuk tambahan dari up rating IPA Sunggal 700 liter/detik dan IPA Martubung 200 liter/detik yang baru operasional tahun 2017.

Delviyandri menyebut sumber-sumber air di Medan ini tak bisa diambil lagi untuk diolah sesuai dengan saran Balai Wilayah Sungai (BWS) sehingga PDAM Tirtanadi mengalihkan ke sumber air baku di Binjai 700 liter/detik yang dikelola melalui Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Regional.

Ia menambahkan pertumbuhan pelanggan 20.000 sambungan rumah per tahun, sementara yang dapat dilayani baru sekira 15.000-17.000 per tahun. (ss)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *