Jumat 24 November 2017
  • :
  • :

Mangrove, Antara Bencana & Euro

Mangrove, Antara Bencana & Euro

Medan, SumutOnline – Mangrove, hutan di sepanjang pantai ternyata memiliki fungsi yang sangat besar untuk ekosistem dan kehidupan manusia. Hutan mangrovelah yang menghirup gas emisi, sampah industri yang mengganggu udara. Hutan mangrove pulalah yang menjaga perjalanan air ke daratan. Hutan mangrove pula yang menjaga burung-burung dan binatang di sekitarnya dan hidup dan memberi kesempurnaan pantai.

Pantai Timur Sumatera Utara merupakan kawasan dari gugusan hutan mangrove terbesar dipulau Sumatera. Luas hutan bakau ini mencapai 287.585 hektar yang berada disepanjang hilir pantai Timur Sumatera Utara. Luas kawasannya mulai dari Tanjung Balai Asahan, Serdang Bedagai, Batubara, Percut Deli Serdang, hingga kawasan hutan manggrove di Kabupaten Langkat.

Data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Utara, hampir 90 persen kawasan hutan mangrove di pantai Timur Sumatera Utara mengalami kerusakan. Kepala Dinas Lingkungan Sumatera Utara Hidayati, mengatakan, salah satu faktor terbesar kerusakan hutan manggrove adalah perubahan lahan perkebunan dan tambak perikanan masyarakat.

Menurutnya, saat ini mulai marak berdirinya lahan perkebunan kelapa sawit dan pertambakan perikanan warga, yang tidak memiliki prosedur dan izin dari pemerintah. Dan tanpa disadari telah merusak ekosistem kawasan mangrove pantai Timur Sumatera Utara.

Secara ideal, pemanfaatan kawasan mangrove harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat tetapi tidak sampai mengakibatkan kerusakan ekosistem hutan mangrove. Pertimbangan yang paling mendasar adalah pengembangan kegiatan yang menguntungkan bagi masyarakat dengan tetap mempertimbangkan kelestarian fungsi mangrove secara ekologis.

Dengan kata lain, hutan mangrove harus menjadi pengembangan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat sekitar mangrove dengan mengandalkan bahan baku dari mangrove yang non-kayu. Seluruhnya dapat dimanfaatkan menjadi peluang usaha dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir pantai.

Direktur Yayasan Gajah Sumatera (Yagasu) Bambang Suprayogi salah satu lembaga swadaya masyarakat yang konsen dengan konservasi mangrove mengatakan, ada beberapa konsep yang dapat dijalankan dalam memberi ketertarikan masyarakat, mengenal, dan melakukan pengawasan hutan mangrove. Dukungan yang diberikan kepada masyarakat pesisir pantai, tentunya berhubungan dengan tingkat prekonomian.

Menurut Bambang Sprayogi, di Indonesia ada sekitar 39 jenis spesies mangrove yang hidup dan berkembang dipesisir pantai. Dari jenis tersebut 23 jenis spesiesnya ada di pantai Timur Sumatera Utara. Karenanya, peluang penguatan ekonomi masyarakat cukup besar, dalam pemanfaatan hasil dan pemeliharaan hutan mangrove. Dibeberapa daerah di Sumatera Utara, sebagian masyarakatnya telah menyadari fungsi dan pemanfaatan hutan mangrove.

Dari puluhan jenis spesies mangrove, 5 jenis spesiesnya dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi makanan yang memiliki nilai ekonomi. Misalnya pohon mangrove jenis nipah, ternyata dapat di olah menjadi dodol dan bahan campuran puding, kue tradisional dan lainnya.

Menurut Bambang Suprayogi aktvitas sosial seperti inilah, yang merangsang keinginan masyarakat untuk lebih perduli dengan hutan mangrove di kawasan pesisir. (ys)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *