Selasa 12 Desember 2017
  • :
  • :

Melongok Barus, Peradaban Islam

Melongok Barus, Peradaban Islam

Medan, SumutOnline – Menjejakkan kaki ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara terasa tak sempurna jika tidak mendatangi Kecamatan Barus. Kecamatan ini menyimpan misteri kerajaan yang namanya tercatat hingga ke Eropa dan Timur Tengah sebagai penghasil Kapur Barus dan rempah-rempah.

Ketika menjejakkan kaki ke Barus, saya teringat akan kata-kata bijak “Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memiliki waktu tidak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan”

Kota Barus terletak di pinggir Pantai Barat Sumatera. Barus sebagai kota Emporium dan pusat peradaban pada abad 1 – 17 M, dan disebut juga dengan nama lain, yaitu Fansur.

Barus adalah kota tua, menjadi salah satu tujuan wisata bagi para peneliti arkeologi Islam, baik dari dalam negeri dan dari luar negeri, khususnya di Lobu Tua dan peneliti Prancis dan Indonesia melakukan eksplorasi arkeologi.

Saat ini kita dapat melihat peninggalan sejarah Islam di Barus, yaitu dengan adanya makam Papan Tinggi dan makam Mahligai. Butuh waktu dua jam menuju Barus dari Pandan yang jaraknya hanya 58 kilometer. Jalannya juga tak terlalu bagus, kecil dan tak terawat.

Padahal, Kota Barus adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara yang selama ini dikenal memiliki nilai budaya dan peradaban sejarah serta dikenal seantero dunia. Kota Tua Barus itu juga dikenal sebagai masuknya Agama Islam pertama di Indonesia.

Makam Papan Tinggi

Perjalanan kali ini cukup istimewa. Tokoh masyarakat Tapanuli Tengah, H. Budiman Ginting H. Amiruddin Marpaung ikut menemani. Kami pun memilih perjalanan pertama menuju makam Papan Tinggi yang terletak di Desa Penanggahan, Kecamatan Barus setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan.

Kami berjalan kaki memasuki jalan utama menuju Makam Papan Tinggi. Suasana desa terlihat sederhana dan serasa tak ada yang istimewa untuk lokasi pemakaman yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi Negara ini.

Uniknya, mayoritas penduduk Desa Penanggahan justru beragama Kristen. Dalam sejarah disebutkan, warga Muslim lebih memilih tinggal dekat laut, sementara warga Kristen memilih berada di perkampungan untuk memudahkan mereka bertanam maupun memelihara ternak.

Setelah melewati desa, kami akhirnya melihat anak tangga bertingkat-tingkat menuju bukit. Wah…….lokasi makamnya tinggi sekali. Sesepuh setempat percaya bahwa dulunya, makam terletak di daratan. Karena hempasan ombak dan perubahan iklim, posisi makam menjadi tinggi dan luas daratan bertambah. Entahlah….

Anak tangga menuju makam Syech Mahmud, sahabat Rasulullah yang membawa syiar Islam pertama di Indonesia ini dibangun dimasa Soekarno. Yang meresmikannya adalah Adam Malik. Masih di anak tangga pertama, suasana di tempat ini terasa demikian teduh dan menenangkan.

Sekelilingnya adalah hutan bercampur dengan tanaman penduduk. Pohon-pohon yang tumbuh membuat kawasan ini menjadi tenang dan tentram. Diarea makam tersebut, terdapat delapan undakan anak tangga menuju Makam Papan Tinggi. Jumlahnya mencapai 744 anak tangga.

Di setiap perhentian undakan terdapat tapak kosong untuk tempat beristirahat. Tapi tetap saja menuju Makam Papan Tinggi benar-benar membutuhkan tenaga ekstra. Di undakan ke 4, pemandangan yang terhampar sudah menakjubkan. Lautan biru yang mengelilingi Kabupaten Tapanuli Tengah terlihat sangat indah. Beberapa pulau terbentang menyatu dengan semesta.

Di daratan, terlihat rumah penduduk Tapanuli Tengah yang rata-rata menggunakan seng sebagai atapnya. Sementara di sisi lain, terlihat hamparan sawah yang menghijau dan asri. Sekejap melepas mata sambil memperbaiki pernafasan sangat membantu semangat untuk meneruskan perjalanan.

Menuju undakan ke 5 dan 6 perjalanan terasa makin memberatkan. Langkah kaki seolah berkejaran dengan detak jantung dan katup pernafasan. Saya dan beberapa pengunjung lain yang juga tengah datang berziarah selalu mengistirahatkan kaki hampir di setiap undakan. Butuh waktu hampir satu jam untuk mencapai undakan ke 7, tapi makam belum kelihatan. Hanya pagar areal makam berwarna biru yang nampak di atas bukit.

“ Hari libur, hari Minggu biasanya banyak pengunjung yang datang ke tempat ini. Kebanyakan mereka datang untuk melihat sejarah, terutama makam-makam ulama-ulama Islam ini. Pendatangpun tak hanya orang Tapteng, tapi juga dari berbagai daerah bahkan dari Malaysia juga pernah datang ziarah ke tempat ini,” kata H Budiman Ginting, Kadis Pariwisata Tapanuli Tengah

Setelah melewati tujuh anak tangga, kamipun akhirnya tiba di Makam Papan Tinggi. Di lokasi Makam Papan Tinggi ini, terdapat makam terpanjang dan mempunyai batu nisan yang besar dan tinggi.

Konon Panjang makam tersebut diperkirakan sekitar tujuh meter lebih, sesuai catatan sejarah, manusia zaman dulu memiliki tinggi badan mencapai 5 meter. Di batu nisan yang terbuat dari batu cadas dengan berat ratusan kilogram tertulis nama Syech Mahmud Fil Hadratul Maut yang ditarikhkan pada tahun 34 H sampai 44 H yang berarti hidup pada masa Umar Bin Khattab sebagai khalifah. Tidak diketahui bagaimana caranya batu cadas itu bisa sampai di ketinggian ini.

Selain makam panjang, didalam lokasi Makam Papan Tinggi itu juga terdapat lima makam lain yang menurut cerita adalah makam keturunannya. Kami pun melakukan ziarah dan berdoa bagi Aulia yang dimuliakan ini.

Menurut Kabag Humas Pemkab Tapanuli Tengah, H Amiruddin Marpaung, sejarah mencatat di zaman Umar Bin Khattab sebagai Khalifah, Umar memberikan peluang kepada sahabat-sahabatnya untuk melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia, termasuk Asia.

Karena Barus berhadapan langsung dengan samudra laut lepas, banyak saudagar-saudagar terutama dari Arab, Yordan, Yaman, Persia dan Hindia yang melakukan pelayaran hingga ke Samudra Hindia dan terdampar di salah satu pulau di Tapanuli Tengah. “Itu kenapa ada namanya Pulau Mursala, Mur berarti asing dan salah berasal dari kata Sholat yang artinya adalah orang asing yang melakukan Sholat di tempat itu,” ujar H. Amiruddin Marpaung.

Kedatangan saudagar-saudagar Timur Tengah ini juga diperkirakan tak jauh waktu dengan kedatangan sahabat-sahabat Rasul. Selain melakukan bisnis pembelian Kapur Barus dan rempah-rempah, sahabat-sahabat Rasul memberikan pendidikan Islam. Tak heran, jika di kawasan Barus terdapat banyak sekali makam-makam ulama di berbagai tempat di Kecamatan Barus. Salah satunya adalah Makam Papan Tinggi. Pemandangan dari bukit pemakaman benar-benar luar biasa. Samudra Hindia dan wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah hingga wilayah Aceh Singkil Provinsi Aceh terlihat mempesona. Dengan posisi 200 meter di atas permukaan laut menjadikan lokasi ini adalah tempat paling istimewa di sepanjang kawasan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Matahari beranjak ke Barat dan mulai memerah di ufuk, saatnya kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Keindahan luar biasa ini harus kami tinggalkan karena petualangan akan dilanjutkan ke pemakaman bersejarah berikutnya yakni Makam Mahligai.

Makam Mahligai Dengan 215 Makam

Makam Mahligai terletak di areal seluas 3 hektar di atas pebukitan Desa Dakka, Kecamatan Barus Induk. Makam Mahligai didirikan oleh Tuan Syekh Siddiq, setelah dirinya mangkat jenazahnya juga dikebumikan di kompleks pemakaman tersebut. Jumlah makam yang terdapat di tempat bersejarah itu, diperkirakan lebih kurang 215 makam dengan batu nisan yang besar dan kecil. Makam tersebut dengan ukiran bergaya arab.

Salah satu makam di kompleks ini adalah Tuan Syekh Rukunuddin, wafat malam 13 Syafar, Tahun 48 Hijriah (48 H) abad ke 7 M, dalam usia 102 Tahun, 2 Bulan, 10 Hari. Bahkan, dari berbagai ukiran terdapat dibatu nisan itu, yakni aksara Arab kuno, aksara Parsi banyak yang sudah tidak dapat terbaca lagi bagi wisatawan dan pengunjung yang datang ke lokasi ini.

Seluruh makam-makam ini menunjukkan fakta sejarah bahwa sekitar abad ke 7 Masehi, agama Islam telah ada di Kota Tua Barus, dan melihat tahunnya, Barus merupakan awal mula masuknya Islam di Indonesia, jauh lebih tua dari sejarah Wali Songo di Pulau Jawa.

Saat tiba di Makam Mahligai, matahari sudah terbenam. Kurangnya perhatian pemerintah atas Pemakaman ini membuat Makam Mahligai gelap gulita tanpa cahaya. Setelah berdoa untuk para ulama Islam ini, sayapun akhirnya bisa bertemu dengan penjaga makam pak Jaharuddin Pasaribu yang sudah 30 tahun lebih merawat Makam Mahligai.

Menurut pak Jaharuddin, kata Mahligai bukanlah tak bermakna apa-apa. Dalam bahasa Arab, Mahligai berasal dari Almahligai yang artinya pendatang. Makam Mahligai berarti makam pendatang. Tapi dalam beberapa pendapat lain disebutkan, Mahligai berarti istana kecil, konon kabarnya daerah ini pernah ada istana kecil.

“Barus dulunya memiliki pelabuhan besar dan terkenal hingga ke Arab dan Eropa. Di kawasan inilah sempat berdiam Aulia-aulia yang dimuliakan. Ada 44 Aulia yang dimuliakan yang makamnya ada di Barus. Yang pertema Syech Mahmud di Makam Papan Tinggi dan di Makam Mahligai ada makam Syech Rukunuddin,” jelas Pak Jaharuddin.

Syech Rukunuddin wafat pada 13 Safar tahun 48 Hijriah abad ke-7 dalam usia 102 tahun 2 bulan 10 hari. Selain Makam Papan Tinggi dan Makam Mahligai, terdapat juga banyak makam yang memperkuat keyakinan bahwa daerah bukit-bukit mulai dari Desa Lobu Tua ke arah Utara, Selatan sampai ke ujung bukit makam Mahligai ini, kemudian ke Timur sampai ke Desa Patupangan melalui Desa Pananggahan sudah berusia ribuan tahun. Diperkirakan pula, dulunya semua kawasan ini adalah tepian pantai.

Makam lainnya yang disebut juga Aulia 44 Negeri Barus adalah di Makam Tuan Batu Badan, yang terletak di atas bukit Desa Bukit Hasang, sekitar 2 kilometer dari kota Barus. Makam di Bukit Patupangan, di Kedai Gedang, di Janji Maria, di Sosor Gadong, di Kampung Solok dan di Uratan, di Kinali pinggir sungai Aek Sirana, di Sitiris-tiris, di Manduamas dan di perbatasan Aceh Selatan.

Tapi saya tak punya cukup waktu untuk melihat seluruh makam para Aulia Islam ini. Menyaksikan pemakaman ulama-ulama besar ini membuat saya merasa begitu kecil. Sayangnya, terasa banyak sejarah yang hilang karena hingga kini kisah sejarah besar itu masih simpang siur. Perhatian Pemerintah Pusat pun terasa minim, padahal jika situs-situs ini tak mendapat perhatian serius, sejarah pun bisa pupus.

“Sejarah manusia merupakan tanah pemakaman dari kebudayaan-kebudayaan yang tinggi, yang rontok karena mereka tidak mampu melakukan reaksi sukarela yang terencana dan rasional untuk menghadapi tantangan.” (ys)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *