Selasa 17 Oktober 2017
  • :
  • :

Negeri Seribu keindahan, Tapteng

Negeri Seribu keindahan, Tapteng

Medan, SumutOnline – Berpetualang, kata itu begitu menggoda. Untuk mengisi petualangan kali ini, saya memilih Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Butuh waktu 9 jam dari Kota Medan, Ibukota Provinsi Sumatera Utara untuk sampai ke kawasan ini.

Perjalanan yang cukup melelahkan, apalagi jalan lintas Sumatera kondisinya buruk dan tak mendukung. Setelah melintasi Kabupaten Tapanuli Utara, kenderaan kami pun melintasi goa perjalanan di lereng bukit. Setelah memasuki Kota Sibolga, kami pun mengarahkan perjalanan ke Kota Pandan, Ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah tepatnya di Pelabuhan Perikanan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Pemandangan di Pelabuhan Perikanan ini sudah menjanjikan. Dari tepi laut, kami melihat kapal nelayan berkayuh di atas laut dengan warna biru yang begitu menggoda. Kapal-kapal besar berlayar menuju Malaysia, dan Thailand membuat kawasan ini memiliki aura kuat sebagai kawasan besar di masa lalu dan masa depan.

Beruntung kami disiapkan Dinas Kelautan Tapanuli Tengah, sebuah speedboat yang biasa digunakan untuk memantau kapal-kapal ikan di laut. Jika harus menyewa kapal, diperlukan biaya 1.500.000 rupiah untuk mencapai pulau Mursala dan Pulau Putri yang hendak kami datangi.

Speed boat mesin ganda berkekuatan 70 PK yang kami tumpangi melaju kencang memecah lekuk-lekuk gelombang laut. Warna hijau air laut ketika meninggalkan dermaga Pelabuhan Perikanan Tapanuli Tengah perlahan tergradasi menjadi kebiru-biruan, lalu memekat, pertanda kami sudah berada di perairan dalam. Percikan air yang terpental dari bagian bawah boat mulai membasahi wajah.

Bagan-bagan pancang di tengah laut adalah gambaran kebesaran nyali nelayan-nelayan pesisir barat. Di tempat inilah nelayan menanti ikan teri dan panen saat malam tiba. Setelah berlayar di Samudra Hindia dengan warna laut biru bagai permata, kami berpapasan dengan kapal nelayan yang telah hampir sebulan melaut mencari ikan.

Wajah-wajah letih para pelaut, terlihat dibungkus rapat kebahagiaan karena hasil tangkapan cukup baik kali ini. Setelah tiga pekan diombang ambing ombak dan badai, mereka membawa 8 ton hasil tangkapan.

Setelah membeli lebih 20 kilogram ikan hasil tangkapan, kamipun kembali menggempur laut. Matahari mulai merangkak ke atas kepala, saat kami melihat pulau Mursala. Gugusan pulau yang tersebar di sekitar teluk, tampak kontras dengan birunya lautan. Sejauh mata memandang, hamparan pulau batu terserak di mana-mana. Pohon-pohon kelapa tumbuh subur di pesisir pulau yang agak besar, posisinya seperti cincin pulau.

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, kamipun akhirnya mendekat ke salah satu dinding Pulau Mursala. Pemandangan luar biasa terhampar di depan mata, Air terjun dengan ketinggian lebih kurang 35 meter yang langsung jatuh dari tebing pulau ke permukaan laut. Air terjun Pulau Mursala tak pernah kering walau musim kemarau kerap menggayut di pulau ini.

Pulau inilah yang diyakini menyelamatkan Kota Sibolga dari amukan tsunami di Sumatera tahun 2004 silam. Ia berfungsi seperti perisai yang membuat gelombang menjadi tawar sesampai di kota.

Perjalananpun diteruskan. Samudra Indonesia terasa semakin indah, karena pulau-pulau lain pun terlihat serasa berada di ujung tangan. Speedboatpun di arahkan ke pulau lain yakni Pulau Putri. Lokasi ini menjadi impian pecinta olahraga sky diving, snorkeling dan pemancing. Saat kami melintas, tim peneliti dari LIPI tengah melakukan penelitian bawah laut.

Perjalanan menikmati keindahan layaknya Surga di Kabupaten ini kembali kami lanjutkan. Speedboatpun mengarah ke Pulau Pasir Putih.

Matahari tepat di atas kepala saat Pulau Pasir Putih berada di depan mata. Pemandangan yang elok menghampar, kamipun tak sabar segera merapat di dermaga kecil pulau Pasir Putih yang dikelola warga berasal dari Nias.

Tak jauh darinya terdapat pulau Pulau kecil berpasangan. Pulau Putri dan Pulau Raja Janggi. Keduanya ternyata memiliki legenda. Konon ceritanya, Raja Janggi yang cinta tak berbalas Putri Runduk menjadi marah.

Raja Janggi lalu mengutuk Putri Runduk menjadi batu. Batu ini lama kelamaan menjadi Pulau, sementara sang Raja menempatkan dirinya bersebelahan dengan sang Putri dan menyimpan cinta selamanya

Di pulau Pasir Putih terdapat penginapan sederhana. Jika untuk mencapai tempat ini butuh waktu sekitar 2 jam dengan speed boat yang bisa disewa dengan harga 1,5 juta, di pulau ini juga terdapat beberapa penginapan dengan tarif 150 ribu rupiah permalam.

Pemandangannya luar biasa. Pasir putih di tepi pantai terlihat begitu bening hingga rumput laut dan batu karang pesonanya memancar ke permukaan. Di sepanjang bibir pantai terlihat nyiur kelapa menjuntai dilengkapi buahnya yang membuat rasa dahaga.

Kami pun merapat di gazebo bibir pantai, mengolah ikan yang kami beli di tengah laut. Menunggu ikan masak, saatnya memetik kelapa dan membuatnya menjadi pelepas dahaga yang tak terhingga setelah melewati ombak Samudra Hindia.

Pulau Pasir Putih menjadi salah satu objek wisata yang pantas menjadi pilihan petualangan. Kepala Dinas Pariwisata Tapanuli Tengah, Drs. Budiman Ginting mengakui banyak kendala dalam mengembangkan wilayah ini. Jarak tempuh dan kondisi jalan yang buruk merupakan masalah terbesar. Laut yang luar biasa di kabupaten Tapanuli Tengah ternyata juga memiliki potensi perikanan yang luar biasa.

Setelah semua masakan bisa dilahap, kamipun langsung menikmati makanan ternikmat di pulau ini. Tak terasa, sudah tiga jam kami berada di Pulau Pasir Putih. Matahari telah bergeser ke arah Barat. Pemandangan Surga dunia ini harus ditinggalkan. (ys)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *