Kamis 23 November 2017
  • :
  • :

Yuuukk,, Intip Dua Masjid Indah di Malaysia

Yuuukk,, Intip Dua Masjid Indah di Malaysia

Medan, SumutOnline – Matahari sudah merangkak sepeleteran  saat saya melihat pemandangan indah dari jendela  kamar 24 Concorde Hotel di Shah Alam, Malaysia. Jalanan terlihat lengang dan masih terdengar suara merdu pengajian usai Subuh dari Masjid Negeri Selangor Darul Ehsan yang dinamakan Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah.

Dengan warna menonjol biru, Masjid yang terletak di areal seluas 35 hektar dengan kubah dilapisi emas, menjadi pemandangan paling sempurna setiap kali saya membuka mata. Sempat merasa aneh, karena di pukul 06.30 waktu Malaysia saya harus menunaikan sholat Subuh.

Rasanya waktu menjadi lambat bergerak, menunggu pukul 08.00 MYT waktu untuk sarapan pagi. Aktifitas di jalan juga terasa sangat lamban untuk kota sebesar Shah Alam, Selangor. Entah karena saat saya berada di kota ini, langit tengah dilapisi kabut asap yang dalam bahasa Malaysia disebut jerebu.

Kabut asap akibat kebakaran hutan di Riau- Indonesia menjadi perbincangan di semua televisi Malaysia saat saya membuka channel program pagi. Dan, semuanya tentu saja ‘menyudutkan’ pemerintah Indonesia. Sejenak terpikir menggantikan lagu Ebiet G Ade menjadi lagu baru Malaysia,” Jerebu, bukanlah pertanda akan segera turun hujan.” Sayapun tertawa sendiri.

Ini hari kedua, saya dan 6 crew media dari Medan akan menguliti wisata Negeri ini. Konsulat Jenderal Malaysia di Medan memberangkatkan kami untuk membantu mempromosikan event-event wisata mereka.

Sarapan pagi di lantai I Hotel Concorde dipenuhi cerita soal Masjid Sultan Hasanuddin Abdul Aziz Shah yang menggoda, membahas waktu sholat yang membuat jadwal sholat kami kacau, makanan hotel yang menambah gairah makan ditambah tentu saja membahas guide kami yang terbilang lumayan, karena sulit menemukan pria tampan sejak pesawat turun di Bandara KLCC.

Pukul 09.00 MYT, kamipun sudah stand by di depan lobby sesuai janji dengan pemandu wisata kami. Namanya Ismail Fisham Hannafi yang lebih suka dipanggil Fisham. Dengan menggunakan kemeja yang disebutnya Batik, lelaki dengan tinggi berkisar 175 cm ini mencoba untuk berbincang akrab dengan kami. Mobil wisata sekelas L-300 yang diparkir di tempat khusus bertuliskan LIMO ONLY, bergerak mendekati kami.

“Hari ini kita ke DEMC Specialist Hospital, jaraknya tak terlalu jauh dari sini”kata Fisham. Kamipun langsung menyerbunya dengan permintaan agar dia bisa membawa kami terlebih dahulu ke Masjid Negeri Selangor yang sudah membuat kami jatuh cinta sejak pandangan pertama.  Tanpa banyak komentar, Fisham menyetujui dan mobil wisata kamipun meluncur ke Masjid Darul Ehsan.

Masjid Darul Ehsan, Masjid Biru

Halaman Masjid terasa begitu luas membentang, saat mobil memasuki pintu gerbang. Arsitektur yang memukau, perkawinan arsitektur Timur Tengah, India, Melayu, Eropa membuat saya merasa begitu bersyukur masih ada umat Muslim yang memikirkan masa depan Islam dengan membangun sarana ibadah demikian bagus.

Taman yang bersih dengan pohon-pohon berwarna menyambut kedatangan kami pagi itu. Beberapa jenis pohon berbunga langsung menarik perhatianku. Tapi tak satupun informasi yang kudapatkan mengenai jenis-jenis pohon di Masjid ini.

Pohon dengan tinggi sekitar 2 meter dengan daun merah merona langsung membuatku jatuh cinta. Mirip pohon Maple Merah tapi daunnya lebih mirip daun memiliki bunga berwarna merah jambu dan putih dan daunnya dari hijau tua di bagian bawah berubah merah saga, huff…. Fisham yang sempat ditanyakan mengenai jenis pohon juga tak bisa menjawab.

Setelah melintasi dua putaran kelokan, kami akhirnya tiba di pintu gerbang masjid. Ada tiga pintu masuk. Pintu masuk utama menghadap pusat bandar Shah Alam. Dihiasi dengan air mancur  setinggi 70 kaki. Pintu masuk Diraja terletak di sebelah kanan. Sambil berjalan,  Fisham menjelaskan nama masjid. “Ini biasa disebut Masjid Darul Ehsan, tapi nama masjidnya Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah,” jelas Fisham.

Tak disangka, kami mendatangi Masjid terbesar di Malaysia, dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal-Jakarta. Masjid Negeri Selangor Darul Ehsan ini menjadi lambang keagungan dan kedaulatan agama Islam di negeri ini. Diresmikan Sultan Selangor Darul Ehsan pada 11 Maret  1988 bersamaan 23 Rajab 1408 Hijriah menjadi Masjid dengan Kubah terbesar di dunia. Disekeliling Masjid ada 4 menara tinggi, yang bentuknya mirip dengan Masjid Nabawi dan ternyata merupakan menara masjid kedua tertinggi di dunia.

Pembangunan masjid menggunakan teknologi terbaru. Kubah luar tingginya 300 kaki dari paras bumi dan garis pusat 170 kaki menjadi kubah agama yang terbesar di jagad raya. Bahagian luar kubah diperbuat daripada kepingan aluminium berlipat dan mempunyai panel yang menarik berwarna biru, tidak akan karat dan tahan beratus tahun.

Bahan alumunium berukuran 35 kaki tinggi disaluti dengan emas. Kubah dalam dan luar terletak di atas alang bulat setinggi 24 kaki dan 14 kaki lebar. Di bahagian luar mempunyai panel enamel yang dihiasi kaligrafi Al Quran berwarna biru dan berlatar belakang panel kelabu. Kaligrafi hasil kerja seniman Mesir, Sheikh Abdel Moneim Mohamed Ali El Sharkawi dan didesign Emaillierwerk dari Hannover, Jerman Barat. Dinding Mahrab diselimuti batu marmar antik import dari Turki dan dihiasi dengan ayat-ayat Al Quran.

Ruang Sholat utama seluas 73.000 kaki persegi ditutupi oleh satu kubah besar yang disokong oleh delapan tiang berbentuk empat persegi. Kubah itu mempunyai garis pusat 170 kaki dan 180 kaki tinggi.  Setiap tiang mempunyai tangga dan dilengkapi lift. Pipa air wudhuknya pun sudah otomatis yang menurut pengurus masjid bisa tetap hidup meski listrik padam dan siap pakai selama 200 tahun. Ckckckck…langsung terbayang pipa tempat pengambilan air wudhu di Indonesia yang harus ganti kran tiap tahun.

Setelah menikmati semilir angin di halaman Masjid dan menikmati ketenangan yang luar biasa, kamipun menyinggahi Pusat Informasi Masjid Darul Ehsan. Dari petugas, kamipun mendapat buklet-buklet berisi informasi dan kegiatan Masjid. Keagungan begitu terasa saat kami bergerak meninggalkan Masjid menuju tujuan perjalanan di wilayah Selangor.

Sulit mencari macet di perjalanan seputaran Selangor. Selain jalan raya yang lebar dan mulus, penataan kawasan terlihat rapi. Tak ada pedagang asongan, angkutan kota yang semrawut, pengemis dan gelandangan. Jumlah penduduk di wilayah Selangor yang relative kecil membuat penataan kota bisa maksimal.

Masjid Putra, Masjid Merah Jambu

Ke Malaysia bukanlah hal pertama kali bagi saya. Setidaknya, ada 4 sampai 5 kali saya berkunjung ke Kuala Lumpur dan beberapa kali ke Penang dan sekali ke Kinabalu. Tapi baru saya sadari, saya tak pernah mendatangi wilayah yang satu ini, Putrajaya. Saya merasa sudah begitu terpesona saat mobil wisata kami memasuki sebuah daerah yang terasa begitu berbeda design kotanya. Lampu jalan yang menjorok dengan lekukan tangan sudah menampar imaginasi saya, mengingat impian masa kecil memiliki taman dengan lampu berbentuk yang visualnya ada di komik-komik.

“Kita sudah masuk ke Putrajaya, kita akan melihat pusat pemerintahan Putra Jaya,” kata Fisham.

Mata yang sempat menahan kantuk, sontak membelalak dan melihat betapa bersihnya kota ini. Saya merasa begitu cemburu, dan ingat semasa kuliah dulu akhir tahun 80-an dan awal 90-an, banyak sekali mahasiswa Malaysia yang kuliah dan belajar di Medan. “Apa ya yang mereka pikirkan saat melihat kotaku?,” tanyaku dalam hati.

Ingatan itu buyar ketika kami memasuki jembatan  Seri Wawasan Bridge dengan design yang mengagumkan di atas Danau Putrajaya, danau buatan dengan luas 600 hektar, warga Malaysia sendiripun banyak yang tidak tahu nama jembatan tersebut.

Putrajaya memang kota taman dengan arsitektur kolosal, design-designnya sungguh berbeda dengan wilayah lain di Malaysia. Danau ini adalah jantung Putrajaya, di atasnya terdapat jembatan twin deck dibatasi dengan taman-taman dan bangunan-bangunan Pusat Administrasi Pemerintah Federal. Saya merasa melihat etalase perencanaan kota yang cantik.

Saya melihat beberapa perahu tengah berlayar di  danau yang bersih. Di sudut lain terdapat beberapa orang tengah memancing. Dari sisi lain juga terdapat jembatan serupa. “Para pelancong bisa naik perahu untuk keliling Danau Putrajaya, jadi bisa melihat pemandangan gedung-gedung megah yang ada di pusat kota wisata ini,” jelas Fisham.

Ada dua macam perahu wisata yang bisa Anda pilih. Pilihan pertama adalah perahu model gondola bernama Dondang Sayang. Perahu ini memiliki kapasitas untuk 4-6 orang sekali jalan. Untuk berkeliling Danau Putrajaya dengan Dondang Sayang, wisatawan harus merogoh kocek RM 20 atau sekitar Rp 60.000 untuk dewasa dan RM 10 atau sekitar Rp 30.000 untuk anak-anak. Atau dengan kapal Belimbing Sightseeing Cruise Boat dengan kapasitas 75 orang dilengkapi AC, dan ongkosnya 30 RM atau sekitar 100 ribu rupiah.

Dari atas jembatan, saya  juga melihat satu Masjid dengan posisi begitu sempurna. Warnanya pun sungguh menggoda, warna merah jambu. Jika Masjid Negeri Selangor dengan warna biru, di Putra Jaya didesign Masjid istimewa dengan arsitektur Persia. Posisinya yang menjorok ke danau dan diikuti Putrajaya Lake Seri Gemilang dengan arsitektur Timur Tengah membuat Masjid begitu sempurna. “Itu masjid pink, masjid Putra,” jelas Fisham.

Masjid berarsitektur menawan, dengan kubah berwarna merah muda ini jadi kebanggaan tersendiri bagi warga Putrajaya. Satu hal yang unik dari masjid ini, setiap pengunjung yang datang khususnya perempuan wajib mengenakan jubah berwarna pink yang tersedia gratis.

Masjid Putra, merupakan masjid utama Putrajaya, Malaysia. Pembangunan masjid dimulai pada tahun 1997 dan selesai dua tahun kemudian. Posisinya di sebelah kantor Perdana Menteri Malaysia. Di depan masjid ada tiang Bendera Malaysia yang besar.

Nama Masjid Putra digunakan untuk menghormati  Perdana Menteri pertama,  Almarhum Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj. Luas areal masjid 1.37 hektar dengan mengawinkan konsep Timur Tengah dan Melayu. Berhdapan langsung dengan pemandangan Danau Putrajaya, Masjid Putra ini bisa dibilang Arsitektur Memukau dengan  memadukan desain tradisional, keahlian lokal dan penggunaan bahan-bahan asli. Masjid ini mencontoh arsitektur Islam Persia periode Safawi dengan unsur-unsur yang berasal dari kebudayaan Muslim lainnya.

Gerbang bangunan masjid mirip sekali dengan bangunan masjid kuno Muslim Persia. Menara masjid dengan tinggi 116 meter mirip dengan masjid di Baghdad. Sedangkan dinding basement masjid menyerupai Masjid Raja Hassan di Casablanca, Maroko.

Komplek Masjid yang dapat menampung 10 ribu jamaah ini juga bisa digunakan untuk kegiatan konfrensi atau seminar dengan memanfaatkan halamannya yang bisa menampung 5000 orang. Hanya berjarak 2,2 kilometer dari tempat ini terdapat Masjid Besi. Sayang sekali, kami tak sempat melihatnya.

Padahal, Informasi yang dapatkan ada 10 Masjid istimewa di Malaysia. Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin atau lebih dikenal dengan Masjid Besi, Masjid Negeri Sultan Abu Bakar Merupakan masjid negeri Johor yang terletak di Johor Bahru, Masjid Zahir atau juga dikenali sebagai Masjid Zahrah merupakan Masjid Negeri Kedah, Masjid Tengku Tengah Zaharah atau Masjid Terapung yang namanya diambil untuk menghormati ibu Al-Marhum Sultan Terengganu Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah iaitu Tuanku Intan Zaharah binti Almarhum Tengku Seri Setia Raja. Masjid ini terletak 4 km dari pusat bandar Kuala Terengganu. Masjid Muhammadi merupakan Masjid Negeri dan terletak di Kota Bharu. Nama Masjid Muhammadi diambil menghormati  nama Sultan Muhammad ke-IV yang sangat berjasa kepada Negeri Kelantan.

Ia juga dipanggil sebagai “Masjid Besar” di kalangan rakyat Kelantan. Masjid Negeri Sabah merupakan masjid negeri Sabah. Masjid Ubudiah, sebuah masjid di Bukit Chandan, Kuala Kangsar, Perak yang dianggap salah satu masjid terindah di Malaysia dan merupakan simbol kebanggaan dan kepercayaan untuk kaum Muslim di Perak dan  Masjid Wilayah Persekutuan.

Melihat masjid-masjid ini menjadi wisata jiwa yang luar biasa bagi saya. Selalu ada daya tarik magis saat melihat rumah-rumah ibadah. Saya tidak tahu, apa karena saya tinggal di Medan dan sejak lahir sudah mengenal Masjid Raya Al-Mashun hingga tak menemukan daya tarik magis itu di masjid ini, atau karena memang pemerintah atau umat Muslim di kota tercinta ini tidak turut serta menjaganya.

Yang saya tahu, kemanapun petualangan itu, kemanapun perjalananannya, nikmati semua dengan sentuhan jiwa. Jiwa-jiwa yang ajaib hanya akan muncul dari tempat-tempat yang dijaga dengan rasa hormat. Mudah-mudahan Allah mendengar doa saya. AMIIIIN…… (ys)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *