Kamis 23 November 2017
  • :
  • :

Kasus Penipuan, Ramadhan Pohan Salahi Savita

Kasus Penipuan, Ramadhan Pohan Salahi Savita

Medan, SumutOnline – Setelah 1 bulan lebih sidang tidak digelar tanpa ada kejelasan. Akhirnya, Pengadilan Negeri (PN) Medan kembali menggelar sidang penipuan sebesar ‎Rp15,3 miliar dengan terdakwa Ramadhan Pohan dan ‎Savita Linda Hora Panjaitan, Jum’at (11/8/2017).

Pada sidang kali ini, dengan agenda mendengari keterangan Ramdhan Pohan sebagai saksi untuk tersangka ‎Savita Linda Hora Panjaitan.

Politisi Partai Demokrat itu, dalam keterangannya membantah tuduhan yang disampaikan Savita Linda Hora Panjaitan apa yang disampaikan sebelumnya atas kasus penipuan tersebut.

“Itu tidak benar, mana ada buktinya. Ini rekayasa. Tapi sesempurnanya pun rekayasa dia (Linda), tidak ada yang terbaik selain Allah Swt,” ungkap Ramadhan.

Dikatakannya, segala dana-dana yang dikeluarkan Linda pada saat kampanye pilkada walikota Medan tahun 2015 lalu adalah tanpa sepengetahuan dirinya. Untuk itu, ia tidak perlu merasa harus bertanggung jawab.

“Bagaimana aku tahu kalau ada hutang piutang, pinjam meminjam tetapi tidak ada buktinya. Gak ada paraf Ramadhan Pohan di situ,” ujar Ramadhan Pohan.

Ramadhan juga mengatakan, merasa dalam kasus ini dirinya seperti di kambing hitamkan. Lantas ia menyebutkan, bahwa Linda sebenarnya bukanlah bendahara Tim Pemenangan Pasangan Redi.

“Intinya, Linda itu tidak ada dalam tim pemenangan. Dia itu hanya donatur. Bendahara kita namanya Dr Sumardi, bukan dia,” ungkap Ramadhan.

Ia juga menyangkal disebut tidak kooperatif selama persidangan. Sebab, persidangan yang menjeratnya sempat tunda beberapa bulan  lamanya sehingga menimbulkan tanda tanya publik.

“Saya dibilang lah menghilang, dibilang tidak datang. Saya selalu datang setiap jadwal sidang. Sebelum mulai sidang saya sudah di sini,” tuturnya

Namun, kata Ramadhan, lamanya persidangan juga disebabkan pengadilan sendiri, karena hakim yang menyidangkan pernah berhalangan hadir.

“Kita bisa maklumi, karena kemarin itu hakimnya sedang sakit. Alasannya kan manusiawi, dan menurut hukumnya, satu tahun pun bisa ditunda asalkan ada persetujuan dari atasannya. Tetapi saya juga sebenarnya rugi juga dengan penundaan yang lama ini,” ucapnya.

Sementara itu, korban Rotua Hotnida Simanjuntak mengatakan kelakukan Ramadhan Pohan membuat malu Partai Demokrat dan membuat masyarakat tidak mempercaya partai berlambang mercy.

“Itulah dia manusianya, orang demokrat yang sudah kita percaya, memang buat malu saja. Mana bisa percaya lagi kita sama Demokrat. Demokrat yang akan datang pun kalau sudah mendengar begini, tidak akan mungkin bisa percaya lagi,” ungkap Rotua di PN Medan, kemarin.

Dia meminta kepada Pengurus DPP Partai Demokrat untuk menyikapi kasus ini. Kemudian mengarahkan Ramadhan Pohan untuk menyelesaikan utang-piutang dirinya.

“Maunya Demokrat pun harus menekan dia karena Demokrat banyak yang tahu dia memakai uang saya. Tolonglah ini harus dipercepat dan harus dibayar seperti janjinya kepada saya,” jelasnya.

Selain membayar utang, Rotua juga berharap majelis hakim segera mencabut status tahanan kota menjadi tahanan Rutan. Sebab, katanya, Ramadhan diduga memengaruhi agar persidangan menjadi terbengkalai.

“Saya mau dia ditahan. Dia seorang yang mau kita percayai jadi wali kota, kok, bisa mencemarkan nama baik dan demokratnya. Minjam uang kok gak mau bayar. Tolong hakim segera tahan dia,” tukasnya.

Lantas, ia merasa heran dengan penegak hukum yang tidak melakukan penahanan terhadap Ramadhan dan Savita. Padahal, pelanggaran hukum yang diperbuat kedua terdakwa penipuan yang merugikan korban dengan nominal yang cukup fantastis.

“Orang yang melakukan penipuan Rp 2 miliar saja ditahan. Saya yakin sepenuhnya bahwa dia (Ramadhan) yang menggunakan uang. Kalau pun dia menggunakan ke tempat lain, dia yang meminta ke saya,” jelas Rotua.

Ia merasa tak habis pikir dengan tingkah Ramadhan saat ini. Setelah mendapat dana pinjaman untuk bertarung pada Pilkada Kota Medan 2015 lalu, Ramadhan selalu mengklaim tak pernah menggunakan uang Rotua untuk kepentingan Pilkada.

“Dan sekarang dia bilang gak kenal saya, gak pernah datang ke rumah. Cek itu sudah diakui di laboratorium dan bank menyatakan itu dia (Ramadhan) punya cek. Tapi sekarang dia berkoar-koar ke sana kemari menyatakan tidak pernah pinjam uang,” ucap.

Di persidangan, usai mendengar keterangan kedua terdakwa, majelis hakim diketuai oleh Erintuah Damanik memerintahkan jaksa penuntut umum (JPU) untuk menyiapkan surat tuntutan dalam jangka dua pekan.”Iya, Pak Hakim. Kami akan siapkan surat tuntutannya dua pekan lagi,” jawab JPU Sabarita.

Untuk diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabarita Siahaan mendakwa Ramadhan Pohan bersama-sama dengan Savita Linda Hora Panjaitan mulai tanggal 14 September 2015 hingga 8 Desember 2015 bertempat di Posko Pemenangan Ramadhan Pohan-Edie Kusuma Jalan Gajahmada Medan, Bank Mandiri Cabang S Parman Medan dan Bank Mandiri Cabang Pembantu Imam Bonjol Medan telah melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu, dengan tipu muslihat atupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan sesuatu kepadanya.

JPU Sabarita menjelaskan, bahwa Ramadhan dan Linda didakwa telah melakukan penipuan dengan kerugian korban mencapai Rp 10,8 miliar Rotua Hotnida Simanjuntak dan dari putranya, Laurenz Hanry Hamonangan Sianipar sebesar Rp 4,5 miliar.

Atas perbuatannya, terdakwa diancam dalam dakwaan primer Pasal 378 KUH Pidana jis Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUH Pidana, Pasal 65 Ayat (1) KUH Pidana subsider Pasal 378, dan Pasal 65 KUH Pidana.(gs)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *