Rabu 18 Oktober 2017
  • :
  • :

Warna & Instagram Bisa Ukur Depresi Manusia

Warna & Instagram Bisa Ukur Depresi Manusia

Medan, SumutOnline – Depresi menjadi kondisi kejiwaan yang semakin umum terjadi. Menurut yayasan amal kesehatan mental Inggris, Mind, depresi menyerang 3,3 dari 100 orang. Sayangnya, banyak penderita depresi sulit mendapatkan diagnosis formal yang sangat penting bagi usaha menanganinya.

Meski demikian, sebuah penelitian yang dipublikasikan di EPJ Data Science melihat, pola penggunaan Instagram bisa menjadi indikasi depresi.

Penulis penelitian, Andrew G Reece dan Christopher M Danforth, menggunakan mesin alat belajar untuk menganalisis hampir 44 ribu kiriman Instagram dari 166 orang. Mereka menilai seksama pada penggunaan warna, komponen meta data, dan pendeteksi wajah.

Dari beberapa penelitian berbeda menunjukkan bahwa, orang yang sehat mengidentifikasi warna-warna gelap dengan mode negatif dan cenderung memilih warna cerah. Sementara itu, orang yang depresi memiliki warna-warna lebih gelap.

Para peneliti juga menemukan, mereka yang mengidentifikasi diri mengalami depresi, cenderung memandang dunia dengan warna abu-abu, atau warna suram.

Karena itu, warna memainkan peranan penting dalam analisis peneliti, dan mereka memberikan perhatian seksama pada kombinasi huge, saturasi, dan kecerahan, begitu pula dengan penggunaan filter.

Di samping itu, para peneliti juga menggunakan Instagram untuk mengukur kehidupan sosial penggunanya. Ini relevan, karena mereka yang mengalami depresi, kemungkinan kecil ingin bertemu teman-temannya.

Dalam hal ini, peneliti menggunakan algoritma pendeteksi wajah untuk melacak jumlah wajah manusia di setiap foto, juga menghitung jumlah ‘like‘ dan komentar untuk mengukur keterikatan sosialnya.

Atribut besar lainnya yang dinilai adalah frekuensi kiriman foto. Jika Anda depresi, Anda tidak akan mendokumentasikan setiap momen dalam hidup Anda di Instagram.

Reece dan Danforth menyimpulkan bahwa, hasil penelitian mereka mendukung gagasan bahwa perubahan kesehatan mental bisa diobservasi melalui media sosial. Upaya yang disediakan tengah dibuat untuk memastikan data diambil dan dianalisis dengan kode etik.

Mereka berargumen bahasa Instagram bisa menjadi basis dari alat yang efektif untuk skrining kesehatan mental. (vnc)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *