Rabu 20 September 2017
  • :
  • :

Wagubsu Buka Medan Minangkabau

Wagubsu Buka Medan Minangkabau

Medan, SumutOnline – Organisasi-organisasi khususnya perempuan seperti Pasatuan Induak Bareh akan lebih banyak lagi tumbuh di Sumatera Utara. Karena masih banyak lagi masyarakat khususnya perempuan di provinsi ini yang membutuhkan bantuan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Dr Hj Nurhajizah Marpaung saat membuka Medan Minangkabau Fest 2017, di Raz Hotel & Convention Jalan Dr Mansur Medan, Rabu (13/9/2017).

Wagubsu juga menjelaskan, kehadiran orgisasi perempuan seperti persatuan Induak Bareh juga diharapkan dapat mendorong percepatan pembangunan Provinsi Sumatera Utara.

“Karena kompetisi global saat ini menuntut keterlibatan semua pihak, baik pemerintah, swasta dan kelompok-kelompok masyarakat social,” ujarnya.

Wagubsu juga mengapresiasi organisasi Induak Bareh yang kelahirannya dibangun atas dasar prinsip kebersamaan, kekeluargaan dan kesetiakawanan telah menunjukkan kiprahnya ditengah-tengah masyarakat Sumut.

“Kebersamaan tentu akan selalu baik daripada bercerai berai, seperti kata pepatah Minang, Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjing. Ka Bukit Samo Mandaki, Ka Lurah Samo Manurun. Sakabek Bak Siriah, Sarumpun Bak Sarai. Satumpuak Bak Pinang, Sadanciang Bak Basi, Saciok Bak Ayam,” tuturnya.

Dijelaskan Wagubsu, makna pepatah ini adalah kebersamaan yang terjalin membuat mampu menghadapi situasi apapun. Kebersamaan juga melahirkan kekuatan untuk menghadapi tekanan.

”Diharapkan Persatuan Induak Baleh menjadi contoh bagi organisasi-organisasi lainnya yang dasar berdirinya adalah kebersamaan,” ucapnya.

Wagubsu juga menjelaskan, kehadiran Pasatuan Induak Bareh ditengah masyarakat Sumut sejadinya adalah bentuk dari kepedulian masyarakat minang untuk berperan aktif dalam membangun provinsi Sumatera Utara.

Meskipun organisasi ini adalah organisasi yang berbasis pada ikatan minang, Namun kami sama sekali tidak khawatir organisasi ini akan membatasi diri pada sekat-sekat kultural yang ada.

“Karena dalam masyarakat modern yang terbuka, peredaan budaya bukanlah penghalang kesatuan melainkan perekat integrasi. Perbedaan budaya juga adalah kekayaan bagi masyarakat plural yang heterogen dan multicultural, termasuk provinsi Sumatera Utara,” pungkasnya. (ss)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *