Rabu 13 Desember 2017
  • :
  • :

Pejuang Mandailing & Batak Yang Terlupakan

Pejuang Mandailing & Batak Yang Terlupakan

Medan, SumutOnline – Ada yang terlupakan ketika kini orang bicara tentang bulan hari pahlawan. Fokusnya semata para pejuang bersenjata di front pertempuran yang di Sumatera Utara kemudian diusung menjadi pahlawan nasional, semisal Djamin Ginting atau yang kini sedang dicalonkan, Brigjend Bedjo.

Tapi dari mana senjata mereka dapatkan untuk lakukan taktik perang gerilya? Siapa yang mengirimi mereka senjata dan bagaimana proses sampainya senjata ke tangan mereka? Kenapa mereka tidak dicatat dalam lembaran sejarah RI yang mereka perjuangkan?

Sumber senjata para pejuang kita di Sumatera Utara ada dua, pertama senjata Jepang yang menyerah pada Sekutu yang “dihadiahkan, disumbangkan, dihibahkan”  atau “dirampok, dirampas” atau kombinasi kedua kategori itu oleh dan dari , Jepang. Kedua,  hasil menyelundupkan senjata dari Singapura yang dilakukan para pejuang yang namanya tidak dikenal.

Saya baru saja mendapatkan sebuah dokumen yang dikeluarkan di Singapura tahun 1948. Dokumen ini disusun dan  didokumentasikan oleh Syamsudin Lubis dan S.L. Tobing, keduanya pelaku dan saksi sejarah masa itu. Dalam dokumen itu diperlihatkan bagaimana Singapura yang diduduki Inggris merupakan pusat keberadaan  senjata gelap yang banyak dimasukkan ke Sumatra.

Dalam dokumen ini diperlihatkan foto foto dan klipping koran, juga arsip surat surat penting berkaitan dengan penyelundupan senjata dari Singapura ke Sumatera periode 1945-1948.

Muncul nama nama yang tidak dikenal terdiri antara lain dari nama nama orang Mandailing dan Bata, Ibrahim Lubis, Djohan Hutapea, Dasuki, Sutan Hutagalung, Hadji Idris, Dawi Nasution, Herman Simandjuntak, Panangian L.Tobing. Adakah yang memiliki informasi lebih dalam tentang tokoh tokoh ini?

Dalam dokumen ini baru  nama foto dan sekilas perjuangan nya saja yang tertera. Riset sejarah tentang keberadaan mereka dan gerakannya belum dilakukan.

Nama-nama tokoh yang terlibat dalam gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia di Singapura ini memperlihatkan berlangsungnya perjuangan lintas etnik, pejuang Mandailing dan Batak bersatu untuk memperjuangkan selamatnya sebuah nation.

Ketika Dawi Nasution ditangkap tentara Inggris  di tongkang yang penuh senjata selundupan saat akan diseberangkan ke Sumatra terbongkarlah jaringannya dan dengan mudah  ditangkaplah temannya Herman Simandjuntak.

Perjuangan bersama lintas etnik dan agama  dapat berlangsung saat sepakat ada musuh bersama : sang penjajah yang kelihatan. Kini sang penjajah yang lebih dahsyat dibanding dulu, berada di tanah air yang mereka perjuangkan,  tapi generasi kini  tak begitu bisa melihatnya.

Apakah ini yang menyebabkan kini berjuang lintas etnik dan agama menjadi sulit dibangun?  Ataukah karena kini, pencarian dan penegakan identitas etnik dan agama lebih penting dibanding musuh bersama yang diam diam melumpuhkan bangsa ini sang penjajah berjubah baru?

Haruskah nasionalisme hanya hidup di era perjuangan kemerdekaan seperti para penyelundup senjata orang Mandailing dan Batak di Singapura ini?

 

Penulis: Kepala Pussis Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *