Rabu 13 Desember 2017
  • :
  • :

Koperasi di Indonesia Salah Asuh

Koperasi di Indonesia Salah Asuh

Medan, SumutOnline – Pemerintah diharapkan dapat segera merevitalisasi koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Hal itu dilakukan sesuai dengan amanah pasal 33 Undang-undang Dasar 1945, di mana negara harus hadir dan tidak membiarkan lebih banyak lagi koperasi alami keterpurukan.

Hal itu diungkapkan Mantan Gubernur Bank Indonesia dan Mantan Menko Perekonomian Burhanuddin Abdullah, yang kini menjabat Rektor Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) Sumedang, Jawa Barat, kemarin.

Menurut Burhanuddin, siapa pun presidennya dan siapa pun pemerintahnya, dalam membangun perekonomian nasional harus kembali kepada Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian harus disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Amanah itu jelas dimaksudkan kepada koperasi.

“Saya melihat banyak hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk membenahi koperasi sehingga mampu menjadi soko guru perekonomian bangsa. Regulasinya harus dirapikan supaya bisa memperkuat posisi koperasi, kemudian pendidikan anggotanya ditingkatkan. Kalau konsisten dilakukan, yakinlah koperasi akan bangkit,” tegasnya.

Selama ini, lanjutnya, koperasi di Indonesia seperti anak salah asuh. Diasuh dengan cara A salah, dengan cara B juga salah. Semua cara dilakukan tapi tetap salah asuh. Kondisi itu, terjadi akibat orang-orang koperasinya termasuk yang mengurusinya tidak tahu tentang koperasi, dan mereka tidak pernah tahu cara berkoperasi yang baik.

“Yang terjadi justru musuh koperasi adalah yang mengurusi koperasi itu sendiri. Akibatnya spiraling down, menjadi semakin tambah hancur ke bawah. Pada Orde Baru, koperasi memang diberi banyak fasilitas oleh negara, namun itu dengan paradigma yang salah tentang koperasi, sehingga jadi rebutan dan bancakan sekelompok orang,” jelasnya.

Untuk itu, hal yang perlu dilakukan saat ini untuk mendorong koperasi adalah meningkatkan pendidikan, sebab koperasi itu identik dengan pendidikan yakni mendidik kebersamaan, mendidik demokrasi, mendidik tanggungjawab, mendidik semangat berkorban untuk kesejahteraan bersama.

“Yang terpenting lagi adalah jiwa volunteer, nah kita enggak ada jiwa volunteer ini. Gotong royong yang kita tahu hanya sebatas membersihkan selokan. Tapi kalau sudah soal duit, semua bilang nanti dulu. Padahal ruh koperasi itu di situ,” bilangnya. (vnc)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *