Jumat 24 November 2017
  • :
  • :

Dari “Pemena” ke Agama Samawi

Dari “Pemena” ke Agama Samawi

Medan, SumutOnline – Pemena adalah pra agama dan kepercayaan masyarakat Karo yang memiliki makna kepercayan pertama dan yang dipegang dan dipahami oleh masyarakat Karo.

Masyarakat Karo percaya segala sesuatu yang ada di dunia ini, baik yang kelihatan atau yang tidak, merupakan ciptaan Dibata, yakni adanya 3 pemahaman konsep tradisi Pemena yang percaya.

Pertama, Dibata diatas disebuat Guru Batara yang memiliki kuasa dunia atas atau angkasa. Kedua disebut Dibata Tengah atau Tuhan Padukah Ni Aji, dialah yang menguasai jagat alam raya dunia kita. Ketiga adalah Dibata teruh atau Tuhan Banua Koling atau Tuhan yang menguasai bumi bahagian bawah bumi.

Selain itu, ada dua unsur kekuatan lain yaitu sinar matawari dan si Berudayang. Sinar matawari adalah simbol cahaya dan penerangan. Ia berada saat matahari terbit dan matahari terbenam. Dia mengikuti perjalanan matahari dan menjadi penghubung dengan tiga Dibata.

Si berudayang adalah seorang perempuan yang tinggal di bulan.Dia sering kelihatan dalam pelangi dan membuat dunia tengah tetap kuat dan tidak digoncang oleh angin topan.

Manusia dalam kepercayaan pemena terdiri dari tiga, tendi (jiwa), begu (roh yang sudah meninggal,hantu) dan kula (tubuh).Ketika seseorang meninggal, maka tendi akan hilang dan tubuhnya akan hancur.

Namun, begu tetap ada.Tendi dan tubuh merupakan kesatuan yang utuh.Ketika tendi berpisah dengan tubuh,maka seseorang akan sakit.Pengobatan akan dilakukan  dengan mengadakan pemanggilan tendi.Jika tendi tidak kembali,maka yang terjadi adalah kematian.

Orang Karo pra beragama meyakini bahwa alam semesta diisi oleh sekumpulan tendi.Setiap titik alam semesta mengandung tendi. Kesatuan dari keseluruhan tendi yang mencakup segalanya ini disebut dibata,sebagai kesatuan totalitas dari alam semesta.

Setiap manusia dianggap sebagai semesta kecil.Manusia merupakan kesatuan dari kula (tubuh), tendi (jiwa), pusuh peraten (perasaan), kesah (nafas), dan ukur (pikiran). Setiap bahagian  berhubungan satu sama lain.Kesatuan ini disebut sebagai keseimbangan dalam diri manusia.

Daya pikiran manusia dianggap bertanggung jawab ke luar guna menjaga keseimbangan dalam dengan keseimbangan luar. Bentuk pemahaman ini menggambarkan manusia sebagai semesta besar. Manusia merupakan kesatuan dari dunia gaib, kesatuan sosial dan lingkungan alam sekitar.

Hal ini menunjukkan suatu pandangan bahwa keseimbangan dalam semesta kecil tidak akan sempurna tanpa tercapainya suatu keseimbangan alam semesta secara luas. Oleh karena itu, banyak orang Karo melakukan acara acara adat dengan tujuan mencapai keseimbangan pada diri manusia.

Pemena sering di cap sebagai stigma Perbegu setelah peristiwa Gestok. Masyarakat Karo sendiri tidak menyukai istilah ini karena begu sering diartikan dengan memuja atau menyembah setan atau roh jahat. Sejak masuknya misi Injil Kristen dan  Islam, penganut paham ini mulai mengalami penurunan namun tidak dalam skala besar.

Menurut Teridah Bangun, jumlah orang Karo yang memeluk agama, baik Protestan, Islam, Katolik sampai tahun 1965 baru terhitung puluhan ribu orang. Eksodusnya orang Karo meninggalkan kepercayaan ini dan memeluk agama samawi setelah tahun 1967.

Meningkatnya orang Karo memeluk agama tidak lepas dari peristiwa Gestok. Peristiwa ini membawa problematika yang memdalam bagi kehidupan beragama bangsa Indonesia, dimana setelah lengsernya rezim orla dan digantikan orba, agama menjadi salah satu kunci legitimasi pemerintahan orde baru. Masyarakat harus memilih agamanya, jika tidak akan dicap komunis.

Demi menguatkan legitimasi tersebut, pemerintah mengeluarkan Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1969 tentang Agama yang dianut penduduk Indonesia antara lain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

Untuk Konghuchu sendiri dipinggirkan pada masa orde baru. Karena berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No.477/74054/1978, kolom agama di KTP harus diisi dengan pilihan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Apabila ada agama di luar peraturan pemerintah itu maka dianggap sebagai aliran kepercayaan saja, termasuk agama lokal.

Termasuk Pemena yang dianut masyarakat Karo tak ada dalam pilihan yang ditawarkan oleh pemerintah. Apabila masyarakat Karo memutuskan untuk tidak mengisi, maka  dicap Komunis atau PKI.

Pelabelan  tentu akan membuat hidup mereka sulit. Anak mereka tidak bisa menjadi PNS dan TNI jika ada cap PKI. Masyarakat Karo sendiri akhirnya harus memilih salah satu agama resmi pemerintah tersebut apabila tidak ingin disebut sebagai komunis.

Apalagi segala urusan administratif seperti pendaftaran  perkawinan,kematian, akta lahir anak dan lain lain hanya dapat dilakukan apabila memiliki KTP.

Hal itulah yang  menyebab kurun waktu itu mayoritas masyarakat Karo memutuskan untuk eksodus meninggalkan Pemena dan berpindah memilih salah satu agama resmi yang ditetapkan pemerintah.

Penulis : Dosen Universitas Sumatera Utara (USU), Wara Sinuhaji, M.Hum

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *