Rabu 13 Desember 2017
  • :
  • :

Penerjemah di PBB Kekurangan Bahan Cetak Pidato?

Penerjemah di PBB Kekurangan Bahan Cetak Pidato?

Medan, SumutOnline – Sebagai lanjutan kegiatan perbandingan pelaksanaan penerjemahan dan pembinaan penerjemah pada pemerintah asing dan lembaga internasional, Deputi Sekretaris Kabinet (Seskab) Bidang Dukungan Kerja Kabinet (DKK) Yuli Harsono beserta rombongan berkunjung ke Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di New York, Amerika Serikat, kemarin.

Di Markas Besar PBB tersebut, Yuli Harsono beserta rombongan bertemu dengan pimpinan divisi penerjemahan lisan dan tulis, guna mempelajari praktik terbaik dalam penerjemahan lisan dan tulis yang dilakukan oleh Markas Besar PBB.

Praktik terbaik ini berguna untuk meningkatkan kualitas penerjemahan di Sekretariat Kabinet (Setkab) dan untuk meningkatkan kompetensi Pejabat Fungsional Penerjemah.

Kepala Layanan Penerjemahan Lisan pada Markas Besar PBB di New York, Hossam Fahr, menyampaikan tantangan besar yang dihadapi oleh penerjemah lisan yang bekerja di Markas Besar PBB, yaitu kecepatan pembicara yang semakin tinggi dan kurang tersedianya bahan cetak pidato untuk dipelajari sebelum melaksanakan penerjemahan lisan.

Untuk mengatasi tantangan yang besar tersebut, Fahr menyampaikan tiga kiat bagi penerjemah lisan. “Pertama, penerjemah lisan harus memiliki pengetahuan umum yang sangat luas. Kedua, memiliki rasa haus akan pengetahuan. Ketiga, hidup sebagai penerjemah lisan dengan tidak memandangnya sebagai profesi tetapi sebagai passion”.

Sementara, Direktur Divisi Penerjemahan Tulis Markas Besar PBB, Cecilia Elizalde, menyampaikan seorang penerjemah tulis harus memperhatikan kualitas terjemahan, konsistensi dalam penggunaan terminologi, dan kecepatan kerja.

Untuk itu, seperti dilansir dari Setkab.go.id, penerjemah tulis yang diterima oleh Markas Besar PBB harus melalui proses seleksi yang sangat ketat. “Dari sekitar 5000 pelamar, yang diterima sebagai penerjemah tulis pada Markas Besar PBB hanya 27 orang” ujar Elizalde.

Setelah diterima, lanjut Elizalde, penerjemah tulis tersebut menjalani masa percobaan selama dua tahun. Jika dinilai berhasil, maka penerjemah tulis dapat mengembangkan karier sebagai pegawai negeri internasional pada Markas Besar PBB dari jenjang P-1 hingga P-5.

“Saat ini, Markas Besar PBB memiliki sekitar 600 penerjemah tetap dan 200 penerjemah tidak tetap.” ujar Elizalde.

Pada pertemuan tersebut, Elizalde menjelaskan PBB menggunakan bahasa yang sangat legalistik, berbeda dengan jenis penerjemahan lainnya. Mengingat dokumen PBB bersifat politis, lanjut Elizalde, maka penerjemahan dilakukan secara sangat setia dan tidak dilakukan penafsiran.

Hal ini karena sebagai pegawai negeri internasional, penerjemah tulis di Markas Besar PBB harus bersikap imparsial.

Untuk menjaga konsistensi terjemahan dan mempercepat proses penerjemahan tulis, menurut Direktur Divisi Penerjemahan Tulis Markas Besar PBB itu, Markas Besar PBB menggunakan teknologi penerjemahan tulis yang disebut eLUNA.

Dengan menggunakan teknologi ini, proses penerjemahan tulis menjadi lebih cepat dan akurat. Sayangnya teknologi eLUNA tersebut tidak terbuka untuk publik.

Sedangkan  database yang bisa diakses oleh publik adalah UN Term, yaitu database terminologi dalam enam bahasa resmi PBB, yaitu Arab, Inggris, Mandarin, Prancis, Rusia, dan Spanyol, dan situsweb UN Docs, yang berisikan kumpulan dokumen PBB.

Menanggapi permintaan Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Dukungan Kerja Kabinet, Yuli Harsono untuk turut meningkatkan kapasitas Pejabat Fungsional Penerjemah, Elizalde menyampaikan kesediaannya untuk memberikan pembekalan tentang penerjemahan tulis kepada Pejabat Fungsional Penerjemah di Markas Besar PBB di New York. (ss)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *