Kamis 14 Desember 2017
  • :
  • :

MA Kamboja Bubarkan Partai Oposisi

MA Kamboja Bubarkan Partai Oposisi

Medan, SumutOnline – Mahkamah Agung Kamboja membubarkan partai oposisi utama, Kamis (16/11/2017). Hal tersebut membuat Perdana Menteri Hun Sen akan kembali memperpanjang kekuasaannya selama tiga dasawarsa dalam pemilihan umum pada tahun depan.

Pemerintah meminta pengadilan membubarkan Partai Penyelamatan Bangsa Kamboja (CNRP), yang dituduh berencana mengambil alih kekuasaan dengan bantuan dari AS setelah pemimpin partai itu, Kem Sokha, ditangkap pada 3 September lalu.

Putusan pengadilan tersebut juga memerintahkan pelarangan politik lima tahun untuk 118 anggota partai oposisi. Hal tersebut mengancam tantangan utama pemilihan umum bagi Hun Sen, mantan komandan Khmer Merah, yang menjadi perdana menteri terlama di dunia.

Dalam pidato di televisi, Hun Sen mengatakan kepada warga Kamboja bahwa pemilihan umum tersebut dilanjutkan ‘seperti biasa’ dan meminta anggota CNRP, yang tidak mendapat pelarangan, berpihak kepada partainya.

CNRP menolak tuduhan tersebut karena bermotif politik. Partai tersebut tidak mengirim pengacara untuk putusan pengadilan.

“Ini menunjukkan bahwa Hun Sen tidak akan pernah berhenti jika tidak ada yang menghentikannya. Putusan itu telah diharapkan. Sudah saatnya sanksi dari masyarakat internasional,” kata putri Kem Sokha dan juga pejabat partai, Kem Monovithya.

Para penyumbang dana dari Barat telah meminta pembebasan Kem Sokha. Namun, mereka tidak menunjukkan minatnya untuk memberikan sanksi terhadap pemerintah Kamboja, yang sekarang terkait erat dengan China.

Demikian pula dengan misi diplomatik AS dan Uni Eropa di Kamboja, mereka menolak memberikan komentar segera mengenai keputusan pengadilan tersebut.

Selain meningkatkan anti-AS, retorika dan menghubungkan AS dengan dugaan rencana terhadapnya, Hun Sen memuji Presiden AS Donald Trump pada sebuah pertemuan puncak regional pada akhir pekan dan mengatakan bahwa dia menyambut baik kebijakannya untuk tidak melakukan interferensi.

Puluhan polisi pengawal berjaga di luar lapangan yang berhiaskan emas di pusat kota Phnom Penh. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda protes dari rakyat. (inc)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *