Kamis 26 April 2018
  • :
  • :

Ini Acara Mangupa Restui Pengantin 

Ini Acara Mangupa Restui Pengantin 

Medan, SumutOnline – Sidang Adat Maralok-Alok sebagai penentu dari prosesi pernikahan adat Mandailing antara Muhammad Bobby Afif Nasution dengan Kahiyang Ayu, digelar hari ini di Kompleks Taman Setia Budi Indah I Bukit Hijau Regency No 123 Medan. Prosesi ini merupakan tahap lanjutan dari prosesi adat sebelumnya, Manarimo Tumpak.

Mangupa adalah satu upacara adat yang berwujud doa, pesan-pesan dan petunjuk kepada kedua pengantin, disampaikan dengan bahasa adat yang berwujud sastra Mandailing. Prosesi mangupa ini dibawakan oleh seorang yang disebut Datu Pangupa.

Hamdan Nasution yang bergelar Mangaraja Parlaungan yang menjadi Datu Pangupa memberikan nasihat, doa, pesan-pesan dan petunjuk kepada kedua pengantin.

Agar nama gelar adat berkat maka dilaksanakan margupa. Di dalamnya berupa pasu-pasu, berisi doa restu agar Bobby dan Kahiyang selamat dalam menempuh rumah tangga dan bermartabat, tutur Pandapotan Nasution, SH, pemangku adat Mandailing bergelar Patuan Kumala Pandapotan.

Tujuan dari pangupa adalah memperkuat tondi ke dalam tubuh, dalam bahasa adat disebut hobol tondi tu badan, artinya tondi bersemayam dalam tubuh dengan aman dan nyaman. Dalam bahasa pangupa digambarkan dengan telur yang direbus, dimana kuning telur dilindungi oleh putih telur dengan baik. Apabila tondi hobol tu badan diharapkan orang yang diupa akan tegar menghadapi segala tantangan.

Istilah tondi tersebut berasal dari bahasa Mandailing (daerah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara), berpadanan dengan beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang mencakup kata semangat, tenaga, dan kekuatan yang bersifat psikologis. Seiring dengan itu, beberapa pakar memiliki kesamaan pendapat tentang pembahasan makna tondi ini.

Sasaran dari pangupa adalah tondi. Tondi tidak dapat dipisahkan dari pangupa. Tondi adalah tenaga spiritual yang memelihara ketegaran jasmani dan rohani agar serasi, selaras dan seimbang dalam kehidupan seseorang dalam bermasyarakat.

Dalam pandangan adat, manusia seutuhnya terdiri dari 3 (tiga) unsur, yaitu: badan, jiwa (roh), dan tondi. Badan adalah jasad kasar yang terlihat dan dapat diraba. Jiwa (roh) adalah benda abstrak yang menggerakkan badan kasar tadi.

Tondi adalah benda abstrak yang mengisi dan menuntun badan kasar dan jiwa tadi dengan tuah, sehingga seseorang kelihatan berwibawa dan punya marwah.

Orang yang telah rusak akal budinya dianggap tidak martondi. Badannya sehat, jiwanya (roh) ada, akan tetapi karena tondinya tidak ada sebagai penuntun badan kasar dan jiwa tadi, maka dia menjadi manusia yang tidak normal.

Itulah sebabnya tondi itu harus tetap bersatu dengan badan seseorang. Disinilah pangupa memegang peranan.

Joko Widodo dan Iriana beserta Ade Hanifah Siregar duduk duduk di sebelah kiri Bobby dan Kahiyang.  Proses selanjutnya adalah keduanya makan dengan tangan dan saling memberikan minum. Proses memberi makan dalam mangupa ini memiliki makna tersendiri bagi mempelai yakni saling menyayangi dan mengasihi.

Sebelumnya, Kahiyang dan Bobby telah resmi memperoleh gelar adat. Kahiyang bergelar Namora Pinayongan Kasayangan, sementara Bobby bergelar Sutan Porang Gunung Barining Naposo.

Perkawinan Muhammad Bobby Afif Nasution dengan Kahiyang Ayu adalah perkawinan antar etnik. Kahiyang Ayu sebagai etnik Jawa merayakan perkawinannya di Solo dengan adat Jawa pada 8 November 2017, demikian juga Bobby merayakan perkawinannya di Medan dengan adat Mandailing.

Secara silsilah Mandailing, Bobby Nasution merupakan raja generasi ke-7 dari keturunan Raja Gunung Baringin Nasution Mandailing Natal Penyabungan Timur. (ss)




KOMENTAR