Senin 23 April 2018
  • :
  • :

Ke Jepang, Gubsu bersama 4 Kdh Studi Kebencanaan

Ke Jepang, Gubsu bersama 4 Kdh Studi Kebencanaan

Jepang, SumutOnline – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) bersama beberapa pemerintah kabupaten/kota melakukan studi kebencanaan di Gunung Asama Volcano, Japang, Kamis (30/11/2017).

Pemprovsu yang diwakili oleh Gubernur Sumut, Erry Nuradi, Bupati Karo, Terkelin Brahmana, Bupati Tapanuli Tengah, Bahtiar Ahmad Sibarani, Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul Pasaribu dan Walikota Sibolga, Syafri Hutauruk melakukan studi bencananya di Kantor Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata (MLIT), Biro Pembangunan Daerah Kanto, Tone River  Water System Sabo Office dibawah kaki Gunung Asama Volcano, Jepang, 145 km dari Kota Tokyo.

Dalam studi kebencanaan tersebut, delegasi Sumut tersebut mendapat penjelasan tentang gunung berapi, khususnya 5 gunung berapi aktif dan berbahaya di Jepang, yakni Gunung Fuji, Sakurajima, Asama, Shinmoedake dan Gunung Aso.

Gunung Asama ini aktif pada 3 April 1783 silam, hingga awal Juli dengan ledakan cukup besar 8 Juli 1783 yang menewaskan 35 ribu jiwa. Letusan terakhir 2 Februari 2009 menyebabkan hujan abu menyelimuti Kota Tokyo. Hingga kini, penanggulangan bencana oleh pemerintah Jepang cukup baik.

Salah seorang delegasi Sumut, Erry Nuradi mengatakan, di Sumut terdapat gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini yakni Gunung Sinabung di Kabupaten Karo yang memiliki risiko tinggi untuk terpapar dan terkena bencana alam lainnya, seperti bannjir, longsor dan gempa.

Untuk itu, lanjut Erry, para delegasi Sumut yang berada di Jepang saat ini, melakukan studi kebencanaan untuk mengetahui bagaimana menangani serta menanggulangi bencana, meminimalisir jatuhnya korban jiwa dari bencana tersebut hingga penerapan teknologi canggih.

“Jepang dikenal dengan daerah rawan bencana gempa dan letusan gunung berapi. Namun, teknologi penanganannya cukup canggih. Kesiapsiagaan mereka baik. Mudah-mudahan banyak manfaat dari Jepang ini nantinya bisa dipelajari dan diterapkan di Sumut,” tuturnya.

Lebih lanjut Erry menjelaskan, bahwa pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana merupakan hal penting dalam penanggulangan bencana. Sebab, bencana berskala besar dapat menghancurkan pencapaian dan pertumbuhan ekonomi yang diperjuangkan selama berpuluh-puluh tahun.

“Hanya dalam sekejap karena bencana, masyarakat yang telah bersusah payah bekerja untuk keluar dari kemiskinan dapat kembali terperosok ke dalam kemiskinan,” pungkasnya. (ss)

 




KOMENTAR