Rabu 17 Januari 2018
  • :
  • :

Pasokan Gas Berkurang, Nasib Ratusan Karyawan Pabrik Terancam

Pasokan Gas Berkurang, Nasib Ratusan Karyawan Pabrik Terancam

Medan, SumutOnline – Pemerintah diminta agar memastikan pasokan gas di Kawasan Industri Medan (KIM) II berjalan normal kembali, agar sejumlah pabrikan yang sudah 16 hari produksinya terganggu agar kembali normal. Dampaknya, ratusan karyawan atau pekerja pabrik terancam di rumahkan.

Demikian dikatakan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Parlindungan Purba kepada wartawan saat melaksanakan kunjungan kerja ke sejumlah pabrik di KIM II sekaligus menampung masukan para pengusaha KIM di PT Jui Shin Indonesia (JSI), Jumat (22/12/2017) .

Dikatakannya, berdasarkan surat perjanjian antara pengusaha dengan PGN, Sabtu (23/12/2017), pasokan gas akan berjalan normal kembali.

“Jika ke depan, pasokan gas ke KIM II belum juga berjalan normal, saya khawatir pengusaha dan masyarakat Class Action selaku warga negara kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait seperti Pertagas Niaga, PGN dan lainnya. Ini sudah merugikan dan tidak boleh terjadi lagi,” tegasnya.

Terkait hal ini, ia mengaku sudah berkomunikasi dengan Direktur Pertamina dan Dirjen Migas, saya yakin kedepan ini sudah normal kembali.

Parlindungan juga menghimbau agar pemerintah serius memperhatikan permasalahan gas di Sumut. Pasalnya, kemarin bermasalah seputar harga, namun kini malah gasnya hilang atau tidak normal.

Ia juga menyampaikan kelangkaan gas sudah berkali-kali terjadi di Sumut. Ironisnya, saat ini Sumut tidak memiliki tangki yang besar untuk mencadangkan gas di daerah ini, sehingga terus mengandalkan pasokan gas dari Arun. Ini tidak efesien. Ke depannya, pemerintah harus serius memikirkan gas di Sumut.

“Direncanakan kami akan membuat rapat kerja di Senayan dan akan mengundang Stackeholder terkait untuk membicarakan itu. Kita berharap infrastruktur di Sumut sudah berjalan seiring dengan pembangunan di bidang industri tidak terkendala,” paparnya sembari mengutarakan keyakinannya pemerintah pusat serius terkait masalah gas di Sumut.

Sebab, lanjutnya, jika kondisi ini terus berlangsung bisa membahayakan dan mengganggu ke berlangsungan perekonomian daerah ini. Bahkan bisa terjadi ‘pengrumahan besar-besaran para pekerja di Sumut. Ini berbahaya.

“Saya juga sebelumnya sudah berkunjung ke Pertamina niaga mempertanyakan hal ini, kata mereka, Pertamina sudah siap menyalurkan gas namun sampai sekarang ini tidak ada gas yang masuk dari PHE NSB sebagai pengelola pengangkutan gas dari perut bumi. Ke depan, jika ada waktu di sela-sela Natal dan Tahun Baru, saya akan mengajak Stackeholder terkait lainnya untuk berkunjung ke PT Pertamina Hulu Energi (PHE) NSB dan NSO yang mengelola dua blok gas di Aceh guna meninjau langsung apa sebenarnya yang terjadi, sehingga tidak bisa memasok gas ke Sumut,” tegasnya.

Untuk itu, masih kata Parlindungan, ke depannya, pemerintah harusnya juga sudah memiliki masterplan energi gas di Sumut sehingga kejadian ini tidak selalu berulang di daerah ini.

“Dengan hilangnya pasokan gas, sejumlah pabrik di KIM yang produksinya bergantung pada gas, nyaris berhenti produksi,” tandasnya.

Sementara, Direktur PT JSI, Anwar Panggabean membenarkan perusahaannya sudah 16 hari tidak mendapat pasokan gas yang stabil. Dari delapan line hanya satu yang beroperasi satu lagi beroperasi dengan menggunakan gas dari Batubara.

“Dengan tidak beroperasinya enam line, ratusan pekerja terpaksa dialih fungsikan. Memang belum sampai di rumahkan tetapi tetap kami gaji,” ujarnya.

Jadi ke depan, lanjutnya, jika terjadi kemunduran lagi dari janji PGN kami terpaksa merumahkan mereka, karena bebannya sangat berat.

“Dengan ketidak stabilan pasokan gas ini kami sudah mengalami kerugian mencapai puluhan miliar rupiah,” pungkasnya. (ss)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *