Selasa 21 November 2017
  • :
  • :

Penyakit Tuberkulosis, Indonesia Peringkat Dua Dunia  

Penyakit Tuberkulosis, Indonesia Peringkat Dua Dunia  

Medan, SumutOnline – Masalah penyakit Tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih membebani masyarakat. Catatan WHO pada 2015, Indonesia menempati urutan kedua dunia sebagai negara dengan jumlah kasus TB terbesar setelah China.

Karenanya untuk terus mensosialisaikan pemberantasannya, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) berencana menindaklanjuti melalui program kemasyarakatan. Demikian dikatakan Gubernur Sumut, Dr HT Erry Nuradi di Medan, Selasa (10/10/2017).

Erry menjelaskan, dari hasil survei terbaru, jumlah kasus baru TB di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 1,02 juta kasus, atau naik dua kali lipat dari estimasi pada tahun sebelumnya.

Hal ini menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sekitar 10 persen dari 10,04 kasus di dunia. Sedangkan di Sumut, pada 2016 jumlahnya mencapai 23.097 kasus dengan angka kematian 5.714 orang.

“Angka ini juga belum mencerminkan seluruh kasus yang ada di masyarakat seperti TB Paru, Ekstra Paru dan TB Anak. Sebab antara data yang dilaporkan dan yang dideteksi masyarakat ke pemerintah masih belum optimal, sekitar 33,7 persen dijangkau program,” ujarnya.

Erry juga mengapresiasi sekaligus berterimakasih kepada seluruh elemen masyarakat yang membuat program yang berhubungan dengan penanggulangan TB dan telah berjalan selama kurang lebih lima tahun di Sumut.

Sementara itu, Chief of Party (COP) USAID Indonesia’s Public Health Insurance Quick Program (JKM), dr Delyuzar mengatakan, program ini sudah berjalan di tiga provinsi yakni Sumut, Sumatera Barat dan DKI Jakarta.

Sedangkan untuk Sumut, pihaknya berada di empat kabupaten/kota, Medan, Tanjung Balai, Deli Serdang dan Serdang Bedagai sejak 20 Desember 2012 lalu hingga 19 Desember 2017 mendatang. Karenanya pada penutupan program tersebut, pihaknya juga berterimakasih atas dukungan Pemprov Sumut terhadap penanggulangan penyakit TB.

Selama ini, kegiatan sosialisasi yang dilakukan seluruh kader dan koordinator program TB Cepat JKM USAID bertujuan mengingatkan masyarakat tentang tanda-tanda TB sekaligus bagaimana penanggulangannya.

Selain itu, program ini juga memobilisasi dan memberdayakan masyarakat dalam penanganan TB, termasuk advokasi serta melibatkan perusahaan untuk bisa mengalokasikan dana CSR, membantu program ini.

Dalam pelaksanaan program TB Cepat JKM USAID, lanjut Delyuzar, para kader dan Community Organizational Development (COD) harus mampu mengadvokasi dan membangun jaringan, aktif di kegiatan keagmaan, PKK atau Posyandu untuk pendekatan kepada keluarga. Begitu juga dengan pelibatan dokter muda serta tokoh yang disegani masyarakat.

“Karenanya kami juga berterimakasih kepada Pemerintah Provinsi yang memberikan dukungan terhadap program ini, begitu juga Pemerintah Kabupaten/Kota yang selama ini sudah mensupport kegiatan kita di daerah,” pungkasnya. (ss)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *