SumutOnline Advertise

Gempa dan Erupsi Ancam Kabupaten Bener Meriah

Gunung Burni Telong (Foto: Ist)

Takengon, Sumol - Ditengah beratnya kehidupan warga pasca bencana alam banjir bandang dan longsor 25-26 November 2025, Kabupaten Bener Meriah saat ini mulai dipanikkan dengan gempa dan erupsi Gunung Burni Telong atau yang biasa disebut Gunung Telong.Di akhir tahun 2025, Rabu (31/12/2025) terjadi 16 kali gempa, status Gunung Telong dari Waspada naik menjadi Siaga.

Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar menyebutkan sebanyak 2.500 warga di daerah itu terpaksa mengungsi akibat aktivitas gunung api Burni Telong meningkat menjadi level 3 Siaga.

Para pengungsi itu dievakuasi ke titik zona aman yang terletak di Unsyiah, Lampahan, Kecamatan Timang Gajah sejak Selasa, 30 Desember 2025 sekira pukul 24.00 WIB.

"Jumlah pengungsi ini 2.500 orang tersebar di beberapa lokasi seperti Rongka, Simpang Balik serta Lampahan. Ada juga sebagian mengungsi ke rumah saudaranya di Aceh Tengah," ungkapnya.

Sebenarnya menurut Tagore, masyarakat yang dievakuasi tersebut hanya berasal dari dua desa yakni, Desa Pantan Pediangen dan Desa Rembune. Namun, karena masyarakat desa lainnya panik sehingga warga Bandar Lampahan dan Damaran juga ikut mengungsi. Ia menegaskan, hingga saat ini imbauan mengungsi hanya berlaku bagi warga yang berada dalam radius lima kilometer dari gunung.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bener Meriah menyiapkan sejumlah lokasi evakuasi bagi masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Api Burni Telong, seiring peningkatan status gunung tersebut ke Level III (Siaga).

Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan untuk melindungi keselamatan warga di kawasan rawan bencana.

Berikut lokasi evakuasi :

1. Kecamatan Timang Gajah I, warga dari Desa Kenine, Fajar Harapan, Damarah Baru, Bandar Lampahan, Karang Jadi, dan Mude Benara diarahkan menuju Kampus USK II Lampahan serta SDN Simpang Layang.

2. Kecamatan Timang Gajah II yang meliputi Desa Rembune, Pantan Dedingen, Bukit Mulie, Lampahan, Lampahan Timur, dan Lampahan Barat, pemerintah menyiapkan SMAN 3 Timang Gajah, MTs Blang Rongka, serta MIN Rongka sebagai lokasi pengungsian.

3. Kecamatan Bukit dari Desa Bale Atu, Hakim Tunggul, Naru, Bale Redelong, Rembele, dan Karang Rejo diarahkan ke GOR Bener Meriah dan area Pasar Pekan Simpang Tiga.

4. Kecamatan Wih Pesam I, yang mencakup Desa Wonosobo, Burni Telong, Pante Raya, dan Wih Pesam, titik evakuasi disiapkan di sejumlah fasilitas pendidikan serta Lapangan Bola Blang Panas. Adapun warga Kecamatan Wih Pesam II, yakni dari Desa Lut Kucak, Simpang Balik, dan Bener Mulie, diarahkan menuju sekolah dasar dan Lapangan Bola Blang Panas.

Gunung Burni Telong tercatat pernah meletus sebanyak 5 kali. Tiga kali pada pertengahan abad ke-19 Masehi dan dua kali pada awal abad ke-20 Masehi.

Gunung Burni Telong meletus untuk pertama kali pada akhir bulan September 1837. Letusan terjadi beberapa kali disertai dengan gempa bumi yang merusak kawasan di sekitarnya. Letusan ini merupakan letusan dengan kondisi normal pada kawah pusat.

Letusan kedua terjadi pada tanggal 12 dan 13 Januari 1839. Letusan ini mengeluarkan abu yang menyebar hingga ke Pulau Weh. Letusan ketiga terjadi pada tanggal 14 April 1856. Pada letusan ini keluar abu dan batu dari kawah.

Gunung Burni Telong berhenti meletus lebih dari setengah abad. Letusan keempat baru terjadi pada bulan Desember tahun 1919 dengan letusan yang normal. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 7 Desember 1924. Letusan ini sangat kecil sehingga hanya menampakkan lima tiang asap di langit.(YP)
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال