SumutOnline Advertise

484 Hektar Sawah di Kecamatan Tukka Hancur dan Gagal Panen

448 Hektar sawah di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapteng hancur akibat banjir bandang dan tanah longsor (25/12/2025). (Foto: Cembo/SumutOnline)

Tapanuli Tengah, Sumol - Ratusan petani di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah kehilangan mata pencaharian akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor 25 November 2025 lalu. 484 hektar sawah gagal panen, ratusan hektar lahan sayur dan buah-buahan juga tak bisa digunakan lagi.

“Tiga hari sesudah bencana harusnya kami panen, karena padi di sawah sudah menguning. Kalau yang di ujung sana, baru mulai tanam. Tapi apa mau dibilang, belum sempat panen terjadilah bencana itu. Sawah tertimbun lumpur berhari-hari, tak ada yang bisa kami selamatkan,”kata Juliani Simatupang (45) warga Desa Tukka, yang memiliki lahan 2,2 hektar kepada SumutOnline, Selasa (13/01/2026).

Kecamatan Tukka, yang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi pertanian yang subur dan menghasilkan berbagai komoditas, termasuk padi. Meskipun bukan satu-satunya "lumbung padi" utama di Sumatera Utara, Tukka merupakan kontributor penting bagi ketahanan pangan lokal di Tapanuli Tengah.

Warga setempat bahkan menyebut Tukka sebagai "permata tersembunyi" (Hidden Gem) Tapanuli Tengah karena tanahnya yang subur dan mampu menghasilkan buah-buahan, sayur-sayuran, ikan sungai, dan padi. Mata air dari pegunungan pun hanya didapat di kecamatan ini.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi signifikan di Kecamatan Tukka, dengan salah satu produksi terbesar berada di Kelurahan Sipange yang menanam varietas padi unggulan seperti Inpari 16 dan Inpari 30, dan sering kali mencapai provitas (produktivitas per hektar) yang tinggi, rata-rata sekitar 6,8 ton/ha.

Banjir bandang dan tanah longsor efek kerusakan hutan dan iklim ekstrem Siklon Senyar, memporakporandakan Kecamatan Tukka dan sejumlah Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Akibat bencana ini, 130 orang meninggal dunia, 5000 orang mengungsi.

“Air sungai sempat tertutup kayu gelondongan, sekarang udah dibersihkan tapi tiap kali hujan, jalan ke Desa Hutanabolon masih banjir, desa Sigiring-giringpun belum pulih. Jadi, kamipun bingung mulai jadi nafkah darimana, lahan pertanian kami hancur masih tertimbun lumpur,”tambah Juliani.

Warga Tukka berharap perbaikan sungai dan drainase serta pembersihan lumpur di ladang mereka segera dilakukan agar warga bisa mulai berusaha lagi.

“Dibantu pemerintahlah kami bibit dan pupuk, soalnya modalpun udah nggak punya,”pungkas Juliani. (YP)
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال

/* --- Pagination Controls --- */