SumutOnline Advertise

Cegah Banjir Lagi, Kemen PU Percepat Pembangunan Sabo Dam di Aek Tukka

Kemen PU Percepat Pembangunan Sabo Dam di Aek Tukka (Foto: Ist)

Tapanuli Tengah, Sumol - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan empat sabo dam di Sungai Aek Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Langkah ini dijalankan sebagai solusi permanen pengendalian banjir dan material sedimen yang kerap mengancam permukiman warga saat hujan deras.

Percepatan dimulai melalui penyelidikan tanah dan pengeboran untuk memastikan desain konstruksi aman dan efektif. Tahapan ini menjadi dasar pelaksanaan pembangunan fisik yang ditargetkan mulai dan rampung bertahap pada 2026.

Saat ini, penanganan di Aek Tukka masih bersifat sementara melalui pembangunan tanggul sungai. Metode yang digunakan berupa metode pancang (sheet pile) di kawasan padat serta tanggul tanah di sejumlah titik.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan tanggul darurat tidak cukup menahan material dari hulu jika hujan deras berlangsung berjam-jam. Ia menekankan pentingnya percepatan pembangunan sabo dam sebagai solusi permanen.

"Khusus di sini saya minta dipercepat pembangunan sabo dam-nya, paling tidak tahun ini harus sudah ada yang selesai. Karena kalau terjadi hujan deras 4–5 jam, saya khawatir tanggul darurat ini tidak mampu menahan material dari hulu,” kata Menteri Dody dalam keterangan tertulis, yang diterima SumutOnline Jumat (27/02/2026).

Empat lokasi sabo dam yang dibangun pada 2026 meliputi Desa Bona Lumban, Hutan Nabolon, Sigala-gala, dan Tukka. Seluruhnya dirancang memiliki bentang 15 hingga 50 meter dengan tinggi 3 sampai 6 meter.

Total kapasitas tampungan keempat sabo dam tersebut masing-masing mencapai 205 ribu meter kubik. Struktur ini dirancang menahan sedimen dari hulu, sehingga aliran air tetap berjalan normal.

“Kalau air saja tidak ada masalah, yang menjadi persoalan adalah ketika air membawa batu, kayu, dan pasir dalam jumlah besar. Itu yang harus kita tahan di dam,” ujarnya.

Total 30 Sabo

Sementara, Kepala BBWS Sumatra II Medan Feriyanto Pawenrusi menyebut pembangunan ini bagian dari rencana pengendalian sungai terpadu di wilayah Tapanuli. Ia menyebut secara keseluruhan, dibutuhkan 30 sabo dam dan enam sand pocket untuk penanganan menyeluruh.

“Kami menyiapkan sabo plan untuk memperlambat arus air dan mengendalikan sedimen. Total kebutuhan untuk penanganan sungai-sungai di wilayah Tapanuli mencapai 30 sabo dam dan 6 sand pocket, seluruh sungai kita sentuh,” ucap Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan tersebut.

Secara bertahap, penanganan sungai-sungai besar di Sumatra Utara dan provinsi lainnya dilakukan dalam kurun waktu hingga empat tahun. Namun, ia menyebut khusus Aek Tukka, Menteri PU meminta proyek prioritas diselesaikan lebih cepat pada 2026.

Pemerintah menargetkan masyarakat di bantaran sungai tidak lagi terdampak banjir meski hujan deras turun berjam-jam. (CEM)
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال