Rupiah tembus Rp18.100/US$ (Illustrasi)
Jakarta, Sumol - Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (28/7/2026), setelah sempat menguat dan bertahan di bawah level Rp18.000 dalam beberapa pekan terakhir. Rupiah di pasar spot diperdagangkan pada rentang Rp18.063 hingga Rp18.118 per dolar AS, setelah pada Senin tutup di level Rp18.009 per dolar AS.
Senior Currency Analyst MUFG, Lloyd Chan, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut, seiring meningkatnya risiko kebijakan global hingga domestik.
Dalam riset yang disampaikan pada Selasa, Chan mengatakan pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) juga turut menambah tantangan kelembagaan bagi pemerintah Indonesia, karena pada akhir 2025 lalu Sri Mulyani juga mengundurkan diri sebagai Menteri Keuangan. “Dua pengunduran diri pejabat senior tersebut menjadi sorotan atas risiko politik dan kebijakan,” tulis Chan dalam risetnya.
Chan juga mengakui bahwa kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah di Indonesia telah membantu inflow atau arus masuk modal asing. Namun dengan meningkatnya risiko tersebut, keberlanjutan inflow ke Indonesia kini menjadi pertanyaan. “Meski kenaikan imbal hasil domestik telah membantu menarik arus masuk bersih investasi asing ke pasar obligasi, keberlanjutan arus dana tersebut masih dipertanyakan,” ujar dia.
Sementara itu tekanan dari pasar global dan kebijakan lain di dalam negeri, juga dinilai belum sepenuhnya mendukung penguatan rupiah. “Kami memandang tekanan dari faktor kebijakan dan kondisi geopolitik akan terus membebani nilai tukar rupiah,” imbuh Chan.
Dalam laporan awal Juli ini, MUFG memproyeksikan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp18.00/US$ pada kuartal ketiga tahun ini, serta berpotensi menyentuh Rp18.350/US$ pada akhir 2026.
Sedangkan konsensus pasar saat itu memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp17.850/US$ pada kuartal ketiga, serta Rp17.728 pada akhir tahun, seiring meredanya lonjakan harga minyak mentah dunia. (YP/IDN)

