Dampak El Nino, Waspadai Heatstroke, DBD dan Malaria (Foto: Ist)
Jakarta, Sumol - Fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau lebih panas, kering, dan panjang berpotensi meningkatkan sejumlah risiko kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat mewaspadai penyakit akibat paparan panas, kekeringan, perkembangbiakan nyamuk, hingga polusi udara dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengatakan, kondisi panas selama musim kemarau dapat memicu gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan suhu tinggi, termasuk heat stress dan heatstroke. Kondisi panas juga dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
“Panas itu jadi bisa tadi sampaikan heatstroke, terus heatstress, sehingga otomatis penyakitnya timbul adalah penyakit yang terkait oleh heat tersebut. Dengan misalnya termasuk kardiovaskuler, itu bisa terjadi lebih meningkat, dan penyakit lainnya yang terkait dengan panas tersebut,” ujar Then dalam Dialog KemenCast, Sabtu (29/08/2026).
Selain panas ekstrem, kekeringan juga menjadi perhatian karena dapat mengganggu ketersediaan air dan sanitasi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan kualitas air dan kebersihan lingkungan, salah satunya diare. "Nah, untuk air ini kan biasanya terkait dengan diare ya, karena sanitasinya kurang baik, dan kualitas airnya kurang baik,” katanya.
Risiko lainnya adalah penyakit yang sensitif terhadap iklim, seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Menurut Then, kondisi kekurangan air dapat membuat masyarakat menampung air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penampungan air yang tidak ditutup dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Di sisi lain, suhu panas dapat mempercepat siklus hidup nyamuk sehingga berpotensi meningkatkan populasinya.
"Dengue, malaria. Itu salah satu faktor karena pada saat air kekurangan, masyarakat ini menampung air atau menyiapkan air. Dan mereka harusnya ditutupkan perlakuannya. Jadi kalau ditampung-tampung jarang ditutup, dan itu jadi perindukan nyamuk,” jelasnya.
Then mendorong masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, terutama dengan menguras dan menutup tempat penampungan air serta membasmi tempat perkembangbiakan nyamuk. “Jangan lupa PSN-nya, pemberantasan nyamuknya. Seperti nanti dikuras, airnya ditutup, ya. Atau ada penampungan. Dan kalau ada jentik, itu dibasmi,” ujarnya.
Karhutla Tingkatkan Risiko Gangguan Pernapasan
Ancaman kesehatan lainnya muncul ketika kondisi panas dan kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap dan polutan yang dihasilkan kebakaran dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Then menyebut gangguan pernapasan yang dapat muncul antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). "Satu lagi tadi, kebakaran, ya. Karena dia panas, bisa menyebabkan kebakaran. Kebakaran jadi polutan. Dan itu menyebabkan gangguan penapasan biasanya. Penapasan bisa ISPA, bisa PPOK, dan sebagainya,” katanya.
Untuk mengurangi risiko paparan polusi udara, masyarakat diimbau menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara tidak baik. "Ya, tentunya menggunakan masker. Dan kalau tidak perlu, tidak perlu keluar. Kalau keluar, berarti gunakan masker,” ujar Then.
Ia juga menyebut masyarakat dapat menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang baik, seperti N95, terutama untuk melindungi diri dari paparan partikulat halus.
Di tengah ancaman panas ekstrem, masyarakat juga diminta mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Apabila mulai mengalami gejala gangguan kesehatan, masyarakat dianjurkan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Ya, jadi untuk panas ekstrem ini, sebaiknya banyak minum untuk pencegahannya. Karena kalau misalnya ada mulai gejala, ada sakit, sebaiknya berobat ke fasilitas kesehatan terdekat,” kata Then. (UPL)

