SumutOnline Advertise

Karhutla Kalbar Jebak Ribuan Satwa, 24 Berhasil Diselamatkan


Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mengamankan orang utan Mama Noni dan anaknya Noni yang terdampak akibat kebakaran hutan. (Dok YIARI)

Jakarta, Sumol - Sebanyak 24 individu satwa liar yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berhasil diselamatkan oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut), melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat sepanjang periode 1 Agustus hingga 10 September 2026. Penyelamatan dilakukan bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan berbagai pihak terkait di tengah operasi pengendalian karhutla yang terus berlangsung.

Puluhan satwa tersebut dievakuasi dari 18 lokasi yang tersebar di tiga kabupaten di Kalimantan Barat. Rincian satwa yang diselamatkan meliputi 15 individu orangutan, enam trenggiling, satu bekantan, satu kukang, dan satu musang tenggalung. Penyelamatan itu merupakan komitmen dalam menjaga kelestarian satwa liar serta ekosistem di Indonesia.

"Upaya penyelamatan yang terbaru, Kementerian Kehutanan melalui Balai KSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan penyelamatan dua individu orangutan yang terdampak karhutla di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Ristianto Pribadi, dalam keterangan resmi Kemenhut di Jakarta, Jumat (11/09/2026).

Penyelamatan dua individu orangutan tersebut berawal dari laporan masyarakat mengenai keberadaan induk dan anak orangutan di sekitar area perkebunan. Dari hasil pemantauan tim di lapangan, kondisi habitat di kawasan tersebut telah terdampak karhutla sehingga tidak lagi menyediakan tutupan hutan yang memadai.

Pada 3 September 2026, tim gabungan mengevakuasi induk orangutan bernama Mama Man yang diperkirakan berusia 20 tahun bersama anaknya, Man, yang berusia sekitar tujuh bulan. Keduanya dititiprawatkan sementara di Pusat Rehabilitasi YIARI untuk menjalani pemeriksaan serta perawatan medis.

Selanjutnya pada 4 September 2026, empat individu orangutan lainnya—yakni Noval, Nopan, Mamak Novi, dan Novi—berhasil dievakuasi dari area perkebunan masyarakat di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Penyelamatan tersebut melibatkan kolaborasi BKSDA Kalimantan Barat, YIARI, Yayasan Palung, dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pemangkat.

Keempat orangutan tersebut juga dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi YIARI untuk menjalani pemeriksaan, rehabilitasi, dan pemantauan kondisi kesehatan. Penitipan dilakukan hingga situasi karhutla di sekitar habitat asal dinyatakan aman, sebelum nantinya dilepasliarkan kembali berdasarkan rekomendasi teknis.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa penyelamatan satwa liar memerlukan peran aktif masyarakat melalui kepedulian dan kecepatan dalam melaporkan kejadian. Masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak karhutla di wilayah Kalimantan Barat dapat menghubungi pusat layanan informasi (call center) BKSDA Kalimantan Barat di nomor 0811-5776-767, Seksi KSDA Wilayah I Ketapang di 0811-5670-041, Seksi KSDA Wilayah II Sintang di 0811-5670-042, atau Seksi KSDA Wilayah III Singkawang di 0811-5670-043.(LAR)
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال