Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas mengawali siraman sebagai simbol keberkahan dan tuntutan dalam tradisi Megang Puasa dan Mandi Berlimau di Kedatukan Sunggal Serbanyaman. (Foto: Ist)
Medan, Sumol - Tradisi Megang Puasa atau yang dikenal pula sebagai Petang Megang serta Mandi Berlimau merupakan warisan adat masyarakat Melayu yang telah mengakar kuat secara turun-temurun, termasuk di Medan, Sumatera Utara. Tradisi ini bukan sekadar seremoni menjelang bulan suci Ramadan, melainkan wujud nilai spiritual, sosial, dan budaya yang menyatu dalam kehidupan masyarakat.
Pemerintah Kota Medan melalui Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan bersama masyarakat Melayu di halaman Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman menggelar Megang Puasa dan Mandi Berlimau, Kamis (12/02/2026).
Megang atau Petang Megang di Medan merupakan momen berkumpulnya keluarga dan masyarakat. Pada masa lalu, tradisi ini identik dengan penyembelihan hewan ternak seperti kambing atau lembu yang kemudian dimasak dan disantap bersama. Kegiatan tersebut bukan semata-mata jamuan makan, tetapi juga lambang kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur atas kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan.
Seiring dengan Megang Puasa, masyarakat Melayu juga melaksanakan Mandi Berlimau. Dahulu, tradisi ini dilakukan di sungai atau pemandian alami yang bersih. Air yang digunakan dicampur dengan bahan-bahan alami seperti limau purut, mayang pinang, pandan, serai wangi, daun nilam, akar rusar atau akar wangi, serta ramuan wewangian tradisional yang dikenal sebagai kasai atau pangir.
Ritual mandi diawali dengan siraman oleh bangsawan, pembesar adat, dan ulama, sebagai simbol keberkahan dan tuntunan. Nilai utama dari Mandi Berlimau adalah pembersihan lahir dan batin, sebagai persiapan menyambut bulan suci dengan hati yang bersih.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, beserta jajaran Pemerintah Kota, unsur masyarakat adat, wakil rakyat, Konsulat Jenderal Malaysia di Medan, Kerapatan Adat Kedatukan Sunggal Serbanyaman serta ratusan masyarakat umum.
Dalam pelaksanaan ritus ini, Bidang Kebudayaan berkomitmen untuk tidak keluar dari pakem adat yang telah diwariskan. Untuk itu, dibentuk tim adat dan budaya yang diketuai oleh budayawan M. Muhar Omtatok, guna memastikan setiap tahapan berjalan sesuai dengan nilai dan norma tradisi Melayu.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas menilai bangsa yang kuat adalah bangsa yang menjaga kebudayaannya, sedangkan bangsa yang melupakan budaya akan kehilangan jati diri.
Perhelatan budaya ini diwarnai tarian tradisional Melayu yang memukau. Para penari, dengan busana khas hitam-putih dan ikat kepala yang rapi, bergerak lincah dan enerjik di atas karpet hijau, menciptakan harmoni gerak yang melambangkan kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan suci.
Usai tarian, acara berlanjut ke inti ritual, yakni ritus Mandi Belimau. Dalam momen itu, Rico Waas tampil mengenakan pakaian adat Melayu lengkap dengan peci hitam dan dengan penuh takzim menyiramkan air rebusan limau dari gayung kayu ke atas kepala warga satu per satu.
Dalam kesempatan itu, Rico Waas mengajak masyarakat menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, tradisi seperti petang belimau dan meugang puasa merupakan warisan berharga yang tidak lekang oleh zaman dan wajib dipertahankan di tengah arus modernisasi.
“Kalau kita mau kuat, intinya cuma satu: kebudayaan kita yang hidup ratusan tahun harus tetap ada di dunia modern ini," sebutnya.
Wali Kota mencontohkan bagaimana negara lain mempromosikan budaya mereka hingga menjadi daya tarik dunia. Karena itu, menurutnya, masyarakat Medan juga harus percaya diri menampilkan identitas budaya sendiri, khususnya budaya Melayu yang sarat nilai sejarah dan spiritual.
Rico Waas juga menekankan bahwa keberagaman budaya di Kota Medan merupakan kekayaan yang harus dibanggakan bersama. Ia mengungkapkan meski bukan berlatar belakang Melayu, dirinya mencintai tradisi Melayu, mulai dari mengenakan busana adat, berpantun, hingga menikmati kesenian tradisional.
“Saya mungkin bukan orang Melayu, tapi saya suka berbaju Melayu, suka berdenjang Melayu, dan suka berpantun. Kalau sudah cinta, itu akan menjadi kebiasaan,” katanya disambut antusias hadirin.
Menurut Wali Kota, kecintaan terhadap budaya akan menumbuhkan rasa saling menghargai antaretnis, baik Melayu, Karo, Batak, Nias, maupun suku lain yang hidup berdampingan di Tanah Deli. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga situs-situs budaya, termasuk masjid bersejarah tempat kegiatan berlangsung, sebagai pengingat perjuangan umat terdahulu.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Provinsi Sumatera Utara Sukronedi, Ketua MUI Medan H. Hasan Matsum, serta unsur Kerapatan Adat Diraja Kedatukan Sunggal Serbanyaman yakni Datin Ampunan Sunggal, Datuk Ihram bergelar Datuk Bendahara Sunggal, Datuk Juanda bergelar Datuk Graha Sunggal, Tengku Penasehat Utama Sunggal Tengku Mohar Om Tatok, dan Tengku Penasehat Sunggal Tengku H. Zaidi, dan Sekda Wiriya Alrahman. (YP)

