SumutOnline Advertise

Nias Barat dan Kemenpar Susun Action Plan Wisata Bahari


Nias Barat dan Kemenpar Susun Action Plan Wisata Bahari (Foto: Yonimasari Hulu)

Jakarta, Sumol - Pemerintah Kabupaten Nias Barat memperkuat langkah menjadikan wisata bahari sebagai penggerak baru ekonomi daerah. Komitmen tersebut disampaikan Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu dalam audiensi dengan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa di Jakarta, Kamis (10/09/2026).

Dalam pertemuan itu, Pemkab Nias Barat memaparkan strategi pengembangan destinasi berbasis kepulauan, penguatan desa wisata, serta peningkatan infrastruktur dan sumber daya manusia.

Hasil audiensi melahirkan sejumlah tindak lanjut konkret. Di antaranya penyusunan proposal infrastruktur dasar pariwisata, penetapan 3 desa sebagai pilot project, pengajuan bantuan sarana pendukung, peningkatan kapasitas SDM, hingga pengusulan Nias Barat dalam perwilayahan strategis pariwisata nasional.

Wamenpar Ni Luh Puspa mengapresiasi fokus Pemkab Nias Barat yang hanya menggarap wisata bahari.

"Saya lihat Pak Bupati sudah sangat fokus pada potensi, yaitu wisata bahari. Jadi tidak bicara yang lain dulu, fokus wisata bahari. Saya pikir separuh pekerjaan sebenarnya sudah selesai. Sekarang tinggal bagaimana mengimplementasikan dan merealisasikannya," kata Ni Luh Puspa.

Wamenpar menegaskan pengembangan pariwisata ke depan harus memastikan kesiapan 3A: atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Infrastruktur dasar seperti jalan, dermaga, air bersih, listrik, internet, dan sanitasi menjadi kunci.

"Atraksi Nias Barat sudah mulai terpetakan dengan baik. Namun peningkatan akses dan kualitas amenitas menjadi pekerjaan penting agar potensi bahari tersebut benar-benar menjadi produk wisata yang siap dipasarkan," ujarnya.

Perhatian khusus diberikan pada kawasan Bawa Integrated Creative Island yang menghubungkan 3 desa dalam satu ekosistem wisata. Ni Luh Puspa meminta setiap desa memiliki diferensiasi produk agar wisatawan mendapat pengalaman berbeda.

"Pendekatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memperpanjang length of stay dan meningkatkan belanja wisatawan kepada masyarakat lokal," katanya.

Dari 16 desa wisata di Nias Barat, pengembangan tahap awal akan difokuskan pada 3 desa di kawasan Bawa Integrated Creative Island. Kementerian menilai model pilot lebih efektif dibanding membangun semua desa sekaligus.

"Setelah model tersebut berhasil, pengembangannya dapat direplikasi ke desa-desa lainnya," tambah Ni Luh Puspa.

Bupati Eliyunus menyambut baik strategi tersebut. "Tidak ada keberhasilan yang bisa kita capai tanpa bekerja dengan fokus. Kita bangun dulu satu model, kita pastikan berhasil, kemudian kita replikasi," kata Eliyunus.

Dalam audiensi juga dibahas peluang penguatan infrastruktur melalui Sustainable and Quality Tourism Development Program (SQTDP) bersama Kementerian PU.

Pemkab diminta segera menyampaikan proposal kebutuhan prioritas, terutama air bersih dan infrastruktur dasar pendukung destinasi.

"Jangan sampai promosi kita lebih maju daripada aktualitas di lapangan. Kita benahi dulu jalannya, dermaga, fasilitas, air, listrik, kebersihan dan destinasi. Setelah semuanya siap, baru promosinya kita dorong lebih kuat," tegas Eliyunus.

Kemenpar membuka peluang dukungan melalui Bantuan Pemerintah (Banper) berupa sarana dan peralatan untuk 3 desa pilot.

Pengembangan SDM juga akan dilakukan melalui pelatihan hospitality, higienitas, pengelolaan homestay, pemanduan wisata, bahasa asing, pemasaran digital, hingga keselamatan wisata bahari. Sinergi dengan Politeknik Pariwisata Medan menjadi salah satu opsi.

Untuk pemasaran, daerah akan difasilitasi masuk ke ekosistem digital Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia. Syaratnya, Pemkab harus aktif menyediakan storytelling, artikel, foto, dan video berkualitas.

Peluang strategis lain adalah pengusulan Nias Barat masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Pemkab akan menyiapkan surat, peta kawasan, potensi bahari, dan review RIPPARKAB agar selaras dengan kebijakan nasional.

Isu kapal layar dan yacht asing yang berlabuh lama di perairan Nias Barat juga dibahas. Eliyunus menyebut transaksi ekonomi dengan masyarakat masih minim, ditambah potensi sampah dan kerusakan terumbu karang.

Kemenpar menyarankan Pemkab mempelajari model Raja Ampat, termasuk mooring buoy dan pedoman kunjungan kapal. Pemkab akan mengkaji aspek kewenangan bersama Pemprov dan kementerian terkait.

Sebagai Ketua FORKADA Kepulauan Nias, Eliyunus juga mengusulkan Grand Design Pariwisata Kepulauan Nias yang menghubungkan destinasi lintas kabupaten/kota.

"Orang datang ke Nias jangan hanya melihat satu kabupaten. Kita susun paket wisata bersama agar wisatawan punya alasan tinggal lebih lama," ujarnya.

Ia menargetkan 2027 sebagai fase penguatan destinasi dan 2028 pariwisata Nias Barat mulai naik kelas.

"Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat Nias Barat dikenal, tetapi memastikan ketika wisatawan datang, masyarakat Nias Barat menjadi penerima manfaat utama," tutup Eliyunus.

Turut hadir Sekretaris Deputi Sumber Daya dan Kelembagaan I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, Asdep Pengembangan Amenitas Bambang Cahyo Murdoko, Asdep Strategi Pemasaran Firnandi Gufron, dan jajaran pejabat Kemenpar. (KN01)
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال